<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Semata Wayang</title>
	<atom:link href="http://anggatoji.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://anggatoji.wordpress.com</link>
	<description>Wayang, nasibmu kini...</description>
	<lastBuildDate>Wed, 10 Dec 2008 00:48:28 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='anggatoji.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Semata Wayang</title>
		<link>http://anggatoji.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://anggatoji.wordpress.com/osd.xml" title="Semata Wayang" />
	<atom:link rel='hub' href='http://anggatoji.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Wayang, eksistensi antar generasi</title>
		<link>http://anggatoji.wordpress.com/2008/12/10/wayang-eksistensi-antar-generasi/</link>
		<comments>http://anggatoji.wordpress.com/2008/12/10/wayang-eksistensi-antar-generasi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Dec 2008 00:48:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>anggatoji</dc:creator>
				<category><![CDATA[eksistensi wayang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anggatoji.wordpress.com/?p=56</guid>
		<description><![CDATA[Selain identik dengan budaya Jawa, wayang kulit kini juga sudah menjadi budaya nasional dan merupakan ciri khas Bangsa Indonesia. Tidak hanya tampil dalam pagelaran, wayang kulit kini juga banyak digunakan sebagai pajangan dan produk kerajinan tangan lainnya. Memang wayang kulit selama ini identik dengan tokoh-tokoh pewayangan, seperti Gatot Kaca, Semar beserta anak-anaknya atau Arjuna. Wayang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anggatoji.wordpress.com&amp;blog=5594483&amp;post=56&amp;subd=anggatoji&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Selain identik dengan budaya Jawa, wayang kulit kini juga sudah menjadi budaya nasional dan merupakan ciri khas Bangsa Indonesia. Tidak hanya tampil dalam pagelaran, wayang kulit kini juga banyak digunakan sebagai pajangan dan produk kerajinan tangan lainnya.</p>
<p>Memang wayang kulit selama ini identik dengan tokoh-tokoh pewayangan, seperti Gatot Kaca, Semar beserta anak-anaknya atau Arjuna. Wayang kulit selalu dikonotasikan barang-barang budaya yang selalu digunakan dalam pagelaran semalam suntuk dengan lakonnya masing-masing.</p>
<p><span id="more-56"></span>Kini, wayang kulit yang merupakan produk berbahan baku kulit binatang seperti sapi, kerbau, kambing, dan lainnya itu banyak diproduksi sebagai produk yang dikategorikan sebagai suvenir. Kini, tokoh-tokoh wayang hadir pada produk lukisan, topeng, kap lampu, pembatas buku, gantungan kunci, kipas, dan aneka suvenir lainnya.</p>
<p>Salah satu yang hingga kini masih menggeluti usaha membuat produk wayang kulit serta produk kerajinan dan suvenir lainnya itu adalah Sugeng Prayogo. Pria asal Bantul, Yogyakarta ini mengaku sudah memproduksi wayang kulit serta produk aneka kerajinan/souvenir sejak tahun 2000.</p>
<p>Sosok muda dan energik ini membuat wayang kulit dan produk kerajinan wayang lainnya di rumahnya di wilayah Timbul Harjo Sewon, Bantul, Yogyakarta. Sugeng memiliki 5 karyawan yang membantu dirinya memproduksi dan memasarkan wayang kulit serta produk kerajinan wayang lainnya itu. Saat ini, Sugeng memproduksi sekitar 20 jenis produk wayang kulit dan lainnya dengan volume produksi mencapai 10.000 unit produk per bulan.</p>
<p>“Saya ini sudah mengenal seni wayang kulit sejak umur 6 tahun. Kakek dan Bapak saya dalang, sehingga saya sudah akrab dengan tokoh-tokoh wayang dan sering mengikuti pagelaran sejak kecil. Saya ini sudah generasi ketiga,” kata Sugeng ketika ditemui Suara Karya saat mengikuti pameran di Plasa Industri Departemen Perindustrian, Jakarta, kemarin.</p>
<p>Selain memliki tempat produksi di kediamannya, Sugeng kini juga sudah memiliki gerai seni (artshop) di Malioboro Yogyakarta dan di Batam sebagai media untuk mempromosikan wayang kulit dan produk kerajinan/souvenir lain dari kulit. Selain itu, Sugeng juga secara intensif memasok ke toko-toko atau galeri seni yang ada di Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Indonesia.</p>
<p>Harga produk-produk wayang kulit dan turunannya produksi Sugeng dan karyawnnya mulai dari Rp 5.000 hingga Rp 500.000 per unit. Pendapatan kotor usaha yang bernama Wahyu Art ini mencapai Rp 20 juta hingga Rp 30 juta per bulan.</p>
<p>“Saya memproduksi wayang kulit dan produk souvenir berbasis wayang dengan tingkat kerumitan cukup tinggi dan lebih halus. Untuk satu produk wayang kulit dengan tokoh pewayangan atau wayang gunungan bisa memakan waktu satu minggu. Kualitas dan tingkat seninya selalu saya jaga,” tutur Sugeng.</p>
<p>Mungkin karena kualitas dan kehalusan tersebut, hingga saat ini para pembeli maupun kolektor masih memburu wayang kulit dan produk kerajinan berbasis wayang kulit lain yang dibuat Sugeng. Hingga saat ini, Sugeng juga masih mengerjakan produk wayang kulit pesanan para dalang yang masih eksis saat ini, maupun dari sanggar-sanggar seni.</p>
<p>Meski demikian, Sugeng mengaku, usaha produksi wayang kulit dan produk kerjainan turunannya itu bukanlah tanpa masalah. Saat ini, dua hal yang masih menjadi penghambat pengembangan usahanya, yakni masalah pemasaran dan mahalnya bahan baku.</p>
<p>Saat ini harga kulit kerbau atau sapi sudah mencapai Rp 50.000 per kilogram atau untuk kulit satu ekor bisa mencapai Rp 400.000 hingga Rp 600.000. “Untuk produk saya sebenarnya yang paling ideal kulit kerbau. tapi kita tahu sendiri jumlah kerbau sendiri sudah semakin berkurang. Sementara kulit sapi banyak peminatnya,” ujar Sugeng.</p>
<p>Sementara, masalah minimnya promosi dan keikutsertaan dalam pameran membuat produk Sugeng tidak banyak diketahui masyarakat. Masyarakat hanya tahu kalau mengunjungi Yogyakarta, Batam, atau Jakarta. Untuk itu, Sugeng sangat berharap bantuan pemerintah daerah dan pusat agar tetap bisa ikut pameran.</p>
<p>“Saya ingin terus ikut pameran, tapi memang tidak mudah. Ini karena banyak produsen dan pengusaha yang sampai mengantre untuk ikut pameran. Jadinya promosi yang saya lakukan sangat terbatas,” kata Sugeng. (Andrian Novery)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/anggatoji.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/anggatoji.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/anggatoji.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/anggatoji.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/anggatoji.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/anggatoji.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/anggatoji.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/anggatoji.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/anggatoji.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/anggatoji.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/anggatoji.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/anggatoji.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/anggatoji.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/anggatoji.wordpress.com/56/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anggatoji.wordpress.com&amp;blog=5594483&amp;post=56&amp;subd=anggatoji&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anggatoji.wordpress.com/2008/12/10/wayang-eksistensi-antar-generasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/79b01384275ab89cc6dbe67d8adc7f96?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">anggatoji</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SEJARAH PERKEMBANGAN KESENIAN WAYANG</title>
		<link>http://anggatoji.wordpress.com/2008/12/07/sejarah-perkembangan-kesenian-wayang/</link>
		<comments>http://anggatoji.wordpress.com/2008/12/07/sejarah-perkembangan-kesenian-wayang/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Dec 2008 08:54:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>anggatoji</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perkembang kesenian wayang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anggatoji.wordpress.com/?p=36</guid>
		<description><![CDATA[Kesenian wayang dalam bentuknya yang asli timbul sebelum kebudayaan Hindu masuk di Indonesia dan mulai berkembang pada jaman Hindu Jawa. Pertunjukan Kesenian wayang adalah merupakan sisa-sisa upacara keagamaan orang Jawa yaitu sisa-sisa dari kepercayaan animisme dan dynamisme. Tentang asal-usul kesenian wayang hingga dewasa ini masih merupakan suatu masalah yang belum terpecahkan secara tuntas. Namun demikian [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anggatoji.wordpress.com&amp;blog=5594483&amp;post=36&amp;subd=anggatoji&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_53" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-53" title="wayang-sekarang" src="http://anggatoji.files.wordpress.com/2008/12/wayang-sekarang.jpg?w=300&#038;h=203" alt="Wayang Sekarang" width="300" height="203" /><p class="wp-caption-text">Wayang Sekarang</p></div>
<p>Kesenian wayang dalam bentuknya yang asli timbul sebelum kebudayaan Hindu masuk di Indonesia dan mulai berkembang pada jaman Hindu Jawa.<br />
Pertunjukan Kesenian wayang adalah merupakan sisa-sisa upacara keagamaan orang Jawa yaitu sisa-sisa dari kepercayaan animisme dan dynamisme. Tentang asal-usul kesenian wayang hingga dewasa ini masih merupakan suatu masalah yang belum terpecahkan secara tuntas. Namun demikian banyak para ahli mulai mencoba menelusuri sejarah perkembangan wayang dan masalah ini ternyata sangat menarik sebagai sumber atau obyek penelitian. Menurut Kitab Centini, tentang asal-usul wayang Purwa disebutkan bahwa kesenian wayang, mula-mula sekali diciptakan oleh Raja Jayabaya dari Kerajaan Mamenang / Kediri. Sektar abad ke 10 Raja Jayabaya berusaha menciptakan gambaran dari roh leluhurnya dan digoreskan di atas daun lontar. Bentuk gambaran wayang tersebut ditiru dari gambaran relief cerita Ramayana pada Candi Penataran di Blitar. Ceritera Ramayana sangat menarik perhatiannya karena Jayabaya termasuk penyembah Dewa Wisnu yang setia, bahkan oleh masyarakat dianggap sebagai penjelmaan atau titisan Batara Wisnu. Figur tokoh yang digambarkan untuk pertama kali adalah Batara Guru atau Sang Hyang Jagadnata yaitu perwujudan dari Dewa Wisnu.<br />
Masa berikutnya yaitu pada jaman Jenggala, kegiatan penciptaan wayang semakin berkembang. Semenjak Raja Jenggala Sri Lembuami luhur wafat, maka pemerintahan dipegang oleh puteranya yang bernama Raden Panji Rawisrengga dan bergelar Sri Suryawisesa. Semasa berkuasa Sri Suryawisesa giat menyempurnakan bentuk wayang Purwa. Wayang-wayang hasil ciptaannya dikumpulkan dan disimpan dalam peti yang indah. Sementara itu diciptakan pula pakem ceritera wayang Purwa. Setiap ada upacara penting di istana diselenggarakan pagelaran Wayang Purwa dan Sri Suryawisesa sendiri bertindak sebagal dalangnya.<br />
Para sanak keluarganya membantu pagelaran dan bertindak sebagai penabuh gamelan. Pada masa itu pagelaran wayang Purwa sudah diiringi dengan gamelan laras slendro. Setelah Sri Suryawisesa wafat, digantikan oleh puteranya yaitu Raden Kudalaleyan yang bergelar Suryaamiluhur. Selama masa pemerintahannya beliau giat pula menyempurnakan Wayang. Gambar-gambar wayang dari daun lontar hasil ciptaan leluhurnya dipindahkan pada kertas dengan tetap mempertahankan bentuk yang ada pada daun lontar. Dengan gambaran wayang yang dilukis pada kertas ini, setiap ada upacara penting di lingkungan kraton diselenggarakan pagelaran wayang.</p>
<p><span id="more-36"></span>Pada jaman Majapahit usaha melukiskan gambaran wayang di atas kertas disempurnakan dengan ditambah bagian-bagian kecil yang digulung menjadi satu. Wayang berbentuk gulungan tersebut, bilamana akan dimainkan maka gulungan harus dibeber. Oleh karena itu wayang jenis ini biasa disebut wayang Beber. Semenjak terciptanya wayang Beber tersebut terlihat pula bahwa lingkup kesenian wayang tidak semata-mata merupakan kesenian Kraton, tetapi malah meluas ke lingkungan diluar istana walaupun sifatnya masih sangat terbatas. Sejak itu masyarakat di luar lingkungan kraton sempat pula ikut menikmati keindahannya. Bilamana pagelaran dilakukan di dalam istana diiringi dengan gamelan laras slendro. Tetapi bilamana pagelaran dilakukan di luar istana, maka iringannya hanya berupa Rebab dan lakonnya pun terbatas pada lakon Murwakala, yaitu lakon khusus untuk upacara ruwatan. Pada masa pemerintahan Raja Brawijaya terakhir, kebetulan sekali dikaruniai seorang putera yang mempunyai keahlian melukis, yaitu Raden Sungging Prabangkara. Bakat puteranya ini dimanfaatkan oleh Raja Brawijaya untuk menyempurkan wujud wayang Beber dengan cat. Pewarnaan dari wayang tersebut disesuaikan dengan wujud serta martabat dari tokoh itu, yaitu misalnya Raja, Kesatria, Pendeta, Dewa, Punakawan dan lain sebagainya. Dengan demikian pada masa akhir Kerajaan Majapahit, keadaan wayang Beber semakin Semarak. Semenjak runtuhnya kerajaan Majapahit dengan sengkala ; Geni murub siniram jalma ( 1433 / 1511 M ), maka wayang beserta gamelannya diboyong ke Demak. Hal ini terjadi karena Sultan Demak Syah Alam Akbar I sangat menggemari seni kerawitan dan pertunjukan wayang.<br />
Pada masa itu sementara pengikut agama Islam ada yang beranggapan bahwa gamelan dan wayang adalah kesenian yang haram karena berbau Hindu. Timbulnya perbedaan pandangan antara sikap menyenangi dan mengharamkan tersebut mempunyai pengaruh yang sangat penting terhadap perkembangan kesenian wayang itu sendiri. Untuk menghilangkan kesan yang serba berbau Hindu dan kesan pemujaan kepada arca, maka timbul gagasan baru untuk menciptakan wayang dalam wujud baru dengan menghilangkan wujud gambaran manusia. Berkat keuletan dan ketrampilan para pengikut Islam yang menggemari kesenian wayang, terutama para Wali, berhasil menciptakan bentuk baru dari Wayang Purwa dengan bahan kulit kerbau yang agak ditipiskan dengan wajah digambarkan miring, ukuran tangan di-buat lebih panjang dari ukuran tangan manusia, sehingga sampai dikaki. Wayang dari kulit kerbauini diberi warna dasar putih yang dibuat dari campuran bahan perekat dan tepung tulang, sedangkan pakaiannya di cat dengan tinta.<br />
Pada masa itu terjadi perubahan secara besar- besaran diseputar pewayangan. Disamping bentuk wayang baru, dirubah pula tehnik pakelirannya, yaitu dengan mempergunakan sarana kelir / layar, mempergunakan pohon pisang sebagai alat untuk menancapkan wayang, mempergunakan blencong sebagai sarana penerangan, mempergunakan kotak sebagai alat untuk menyimpan wayang. Dan diciptakan pula alat khusus untuk memukul kotak yang disebut cempala. Meskipun demikian dalam pagelaran masih mempergunakan lakon baku dari Serat Ramayana dan Mahabarata, namun disana- sini sudah mulai dimasukkan unsur dakwah, walaupun masih dalam bentuk serba pasemon atau dalam bentuk lambang-lambang. Adapun wayang Beber yang merupakan sumber, dikeluarkan dari pagelaran istana dan masih tetap dipagelarkan di luar lingkungan istana.<br />
Pada jaman pemerintahan Sultan Syah Alam Akbar III atau Sultan Trenggana, perwujudan wayang kulit semakin semarak. Bentuk-bentuk baku dari wayang mulai diciptakan. Misalnya bentuk mata, diperkenalkan dua macam bentuk liyepan atau gambaran mata yang mirip gabah padi atau mirip orang yang sedang mengantuk. Dan mata telengan yaitu mata wayang yang berbentuk bundar. Penampilan wayang lebih semarak lagi karena diprada dengan cat yang berwarna keemasan.<br />
Pada jaman itu pula Susuhunan Ratu Tunggal dari Giri, berkenan menciptakan wayang jenis lain yaitu wayang Gedog. Bentuk dasar wayang Gedog bersumber dari wayang Purwa. Perbedaannya dapat dilihat bahwa untuk tokoh laki-laki memakai teken. Lakon pokok adalah empat negara bersaudara, yaitu Jenggala, Mamenang / Kediri, Ngurawan dan Singasari. Menurut pendapat Dr. G.A.J. Hazeu, disebutkan bahwa kata &#8220;Gedog&#8221; berarti kuda. Dengan demikian pengertian dari Wayang Gedog adalah wayang yang menampilkan ceritera-ceritera Kepahlawanan dari &#8220;Kudawanengpati&#8221;atau yang lebih terkenal dengan sebutan Panji Kudhawanengpati. Pada pagelaran wayang Gedog diiringi dengan gamelan pelog. Sunan Kudus salah seorang Wali di Jawa menetapkan wayang Gedog hanya dipagelarkan di dalam istana. Berhubung wayang Gedog hanya dipagelarkan di dalam istana, maka Sunan Bonang membuat wayang yang dipersiapkan sebagai tontonan rakyat, yaitu menciptakan wayang Damarwulan . Yang dijadikan lakon pokok adalah ceritera Damarwulan yang berkisar pada peristiwa kemelut kerajaan Majapahit semasa pemerintahan Ratu Ayu Kencana Wungu, akibat pemberontakan Bupati Blambangan yang bernama Minak Jinggo.<br />
Untuk melengkapi jenis wayang yang sudah ada, Sunan Kudus menciptakan wayang Golek dari kayu. Lakon pakemnya diambil dari wayang Purwa dan diiringi dengan gamelan Slendro, tetapi hanya terdiri dari gong, kenong, ketuk, kendang, kecer dan rebab. Sunan Kalijaga tidak ketinggalan juga, untuk menyemarakkan perkembangan seni pedalangan pada masa itu dengan menciptakan Topeng yang dibuat dari kayu. Pokok ceriteranya diambil dari pakem wayang Gedog yang akhirnya disebut dengan topeng Panji. Bentuk mata dari topeng tersebut dibuat mirip dengan wayang Purwa. Pada masa Kerajaan Mataram diperintah oleh Panembahan Senapati atau Sutawijaya, diadakan perbaikan bentuk wayang Purwa dan wayang Gedog. Wayang ditatah halus dan wayang Gedog dilengkapi dengan keris.<br />
Disamping itu baik wayang Purwa maupun wayang Gedog diberi bahu dan tangan yang terpisah dan diberi tangkai. Pada masa pemerintahan Sultan Agung Anyakrawati, wayang Beber yang semula dipergunakan untuk sarana upacara ruwatan diganti dengan wayang Purwa dan ternyata berlaku hingga sekarang. Pada masa itu pula diciptakan beberapa tokoh raksasa yang sebelumnya tidak ada, antara lain Buto Cakil. Wajah mirip raksasa, biasa tampil dalam adegan Perang Kembang atau Perang Bambangan.<br />
Perwujudan Buta Cakil ini merupakan sengkalan yang berbunyi: Tangan Jaksa Satataning Jalma ( 1552 J / 1670 M ). Dalam pagelaran wayang Purwa tokoh Buta Cakil merupakan lambang angkara murka. Bentuk penyempurnaan wayang Purwa oleh Sultan Agung tersebut diakhiri dengan pembuatan tokoh raksasa yang disebut Buta Rambut Geni, yaitu merupakan sengkalan yang berbunyi Urubing Wayang Gumulung Tunggal: ( 1553 J / 1671 M ). Sekitar abad ke 17, Raden Pekik dari Surabaya menciptakan wayang Klitik, yaitu wayang yang dibuat dari kayu pipih, mirip wayang Purwa. Dalam pagelarannya dipergunakan pakem dari ceritera Damarwulan, pelaksanaan pagelaran dilakukan pada siang hari.<br />
Pada tahun 1731 Sultan Hamangkurat I menciptakan wayang dalam bentuk lain yaitu wayang Wong. Wayang wong adalah wayang yang terdiri dari manusia dengan mempergunakan perangkat atau pakaian yang dibuat mirip dengan pakaian yang ada pada wayang kulit.<br />
Dalam pagelaran mempergunakan pakem yang berpangkal dari Serat Ramayana dan Serat Mahabarata. Perbedaan wayang Wong dengan wayang Topeng adalah ; pada waktu main, pelaku dari wayang Wong aktif berdialog; sedangkan wayang Topeng dialog para pelakunya dilakukan oleh dalang.<br />
Pada jaman pemerintahan Sri Hamangkurat IV; beliau dapat warisan Kitab Serat Pustakaraja Madya dan Serat Witaraja dari Raden Ngabehi Ranggawarsito. Isi buku tersebut menceriterakan riwayat Prabu Aji Pamasa atau Prabu Kusumawicitra yang bertahta di negara Mamenang / Kediri.<br />
Kemudian pindah Kraton di Pengging. Isi kitab ini mengilhami beliau untuk menciptakan wayang baru yang disebut wayang Madya. Ceritera dari Wayang Madya dimulai dari Prabu Parikesit, yaitu tokoh terakhir dari ceritera Mahabarata hingga Kerajaan Jenggala yang dikisahkan dalam ceritera Panji.<br />
Bentuk wayang Madya, bagian atas mirip dengan wayang Purwa, sedang bagian bawah mirip bentuk wayang gedog. Semasa jaman Revolusi fisik antara tahun 1945 &#8211; 1949, usaha untuk mengumandangkan tekad pejuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia dilakukan dengan berbagai cara.<br />
Salah satu usaha ialah melalui seni pedalangan. Khusus untuk mempergelarkan ceritera- ceritera perjuangan tersebut, maka diciptakanlah wayang Suluh.<br />
Wayang Suluh berarti wayang Penerangan, karena kata Suluh berarti pula obor sebagai alat yang biasa dipergunakan untuk menerangi tempat yang gelap. Bentuk wayang Suluh, baik potongannya maupun pakaiannya mirip dengan pakaian orang sehari-hari.<br />
Bahan dipergunakan untuk membuat wayang Suluh ada yang berasal dari kulit ada pula yang berasal dari kayu pipih. Ada sementara orang berpendapat bahwa wayang suluh pada mulanya lahir di daerah Madiun yang di ciptakan oleh salah seorang pegawai penerangan dan sekaligus sebagai dalangnya. Tidak ada bentuk baku dari wayang Suluh, karena selalu mengikuti perkembangan jaman. Hal ini disebabkan khususnya cara berpakaian masyarakat selalu berubah, terutama para pejabatnya .</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/anggatoji.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/anggatoji.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/anggatoji.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/anggatoji.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/anggatoji.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/anggatoji.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/anggatoji.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/anggatoji.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/anggatoji.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/anggatoji.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/anggatoji.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/anggatoji.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/anggatoji.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/anggatoji.wordpress.com/36/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anggatoji.wordpress.com&amp;blog=5594483&amp;post=36&amp;subd=anggatoji&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anggatoji.wordpress.com/2008/12/07/sejarah-perkembangan-kesenian-wayang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/79b01384275ab89cc6dbe67d8adc7f96?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">anggatoji</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://anggatoji.files.wordpress.com/2008/12/wayang-sekarang.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">wayang-sekarang</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Wayang Wayang Wahyu, Gedog, Potehi, Kedek</title>
		<link>http://anggatoji.wordpress.com/2008/12/07/wayang-wayang-wahyu-gedog-potehi-kedek/</link>
		<comments>http://anggatoji.wordpress.com/2008/12/07/wayang-wayang-wahyu-gedog-potehi-kedek/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Dec 2008 07:53:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>anggatoji</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gedog]]></category>
		<category><![CDATA[Kedek]]></category>
		<category><![CDATA[Potehi]]></category>
		<category><![CDATA[Wayang Wayang Wahyu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anggatoji.wordpress.com/?p=26</guid>
		<description><![CDATA[Wayang Suluh tergolong wayang modern, karena baru tercipta setelah zaman kemerdekaan. Wayang ini dimaksudkan sebagai media penerangan mengenai sejarah perjuangan bangsa. Karena itu, di antara tokoh peraganya, antara lain terdapat Bung Karno, Bung Hatta, Bung Tomo, Syahrir, dan Jenderal Sudirman. Penggambaran tokoh Wayang Suluh dibuat realistik. Diduga, karena “beban” misi penerangan yang terlampau berat dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anggatoji.wordpress.com&amp;blog=5594483&amp;post=26&amp;subd=anggatoji&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Wayang Suluh</strong> tergolong wayang modern, karena baru tercipta setelah zaman kemerdekaan. Wayang ini dimaksudkan sebagai media penerangan mengenai sejarah perjuangan bangsa. Karena itu, di antara tokoh peraganya, antara lain terdapat Bung Karno, Bung Hatta, Bung Tomo, Syahrir, dan Jenderal Sudirman. Penggambaran tokoh Wayang Suluh dibuat realistik.</p>
<div id="attachment_43" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-43" title="Aneka Wayang" src="http://anggatoji.files.wordpress.com/2008/12/750px-the_wayang_portal.jpg?w=300&#038;h=60" alt="Aneka Wayang" width="300" height="60" /><p class="wp-caption-text">Aneka Wayang</p></div>
<p>Diduga, karena “beban” misi penerangan yang terlampau berat dan bahan cerita yang terlalu bersifat sejarah, membuat Wayang Suluh tidak dapat berkem­bang seperti diharapkan.</p>
<p><strong>Wayang Wahyu</strong> mempunyai bentuk peraga wa­yang terbuat dari kulit, tetapi corak tatahan dan sung­gingannya agak naturalistik.</p>
<p>Wayang ini mengambil lakon dari cerita Injil, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Bahasa pengantarnya, bahasa Jawa. Di antara lakonnya, antara lain adalah Samson Ian Delilah, dan David Ian Goliat.</p>
<p>Pergelaran Wayang wahyu hampir serupa dengan Wayang Kulit Purwa, diiring oleh seperangkat gamelan dan pesinden, kelir dan gedebog. Para dalangnya pun pada umumnya juga merangkap sebagai dalang Wayang Kulit Purwa.</p>
<p>Perkembangan Wayang Wahyu amat terbatas pada lingkungan masyarakat beragama Katolik, itu pun yang berasal dari suku bangsa Jawa. Padahal, tidak semua orang Jawa menyukai wayang. Dengan demikian Wayang Wahyu praktis tidak berkembang.</p>
<p><strong>Wayang Gedog</strong> yang dicipta oleh Sunan Giri di tandai candra sengkala Gegamaning Naga Kinaryeng Bathara: 1485 caka (1568 M). Wayang ini amat mirip dengan Wayang Kulit Purwa, tetapi mengambil lakon dari cerita-cerita Panji. Itulah sebabnya, sebagian or­ang menamakan Wayang Gedog ini Wayang Panji.</p>
<p>Di antara tokoh-tokoh ceritanya, antara lain adalah Prabu Lembu Hamiluhur, Prabu Klana Madukusuma, dan Raden Gunungsari.</p>
<p>Wayang ini, boleh dibilang sudah punah. Hanya sisa-sisa peraganya saja yang masih bisa dilihat di beberapa museum dan Keraton Surakarta.</p>
<p>Wayang Kancil, termasuk wayang moderen, diciptakan tahun 1925 oleh seorang keturunan Cina bernama Bo Liem.</p>
<p>Wayang yang juga terbuat dari kulit itu, menggunakan tokoh peraga binatang, dibuat dan disungging oleh Lie To Hien. Cerita untuk lakon-lakon para Wayang Kancil diambil dari Kitab Serat Kancil Kridamartana karangan Raden Panji Natarata.</p>
<p>Wayang Kancil termasuk di antara jenis wayang yang tidak berkembang, meskipun seorang seniman, yakni Iedjar Subroto tetap berusaha mempopulerkannya.</p>
<p>Wayang Potehi menceritakan kisah-kisah dari negeri Cina, di antaranya Si Jin Kui, Sam Pek Eng Thay. Pertunjukan Wayang Potehi tidak diiringi oleh gamelan, melainkan sejenis musik yang disebut gubar­-gubar, biola, dan tik-tok.</p>
<p><strong>Wayang Kedek</strong> adalah nama Wayang Kelantan, Malaysia. Menurut J. Cuisinier Wayang Kelantan (Ma­laysia) berasal dari Jawa, dengan alasan bahwa repertoarnya dari Mahabarata versi Jawa dan siklus Panji. Menurut Van Stein Callenfels bahwa Wayang Kelantan berasal dari Jawa, lalu dibawa ke Thailand dan Kamboja. Wayang Ku1it Thailand dibawa ke Kelantan sehingga keduanya memiliki bentuk wayang yang serupa.</p>
<p>Wayang Kelantan terbuat dari kulit sapi, dipahat dan disungging. Bentuk figurnya dilengkapi dengan pakaian, mahkota, senjata dan lain sebagainya. Bentuk figur Wayang Kedek pada umumnya tangan kiri menjadi satu dengan badannya, kecuali tokoh Pak Dogah (Semar) kedua tangannya dibuat bergerak (terlepas dari badannya). Di daerah Kelantan terdapat dua jenis wayang yakni: Wayang Melayu dan Nang Siam.- Nang Siam juga disebut Wayang Kedek yang bentuk figurnya kena pengaruh dari Siam. Sedangkan Wayang Melayu teknis pertunjukannya, figurnya repertoar mengikuti tradisi Wayang Kulit Jawa maka disebut Wayang Jawa.</p>
<p>Repertoar Wayang Kedek mengambil dari serat Ramayana dan yang paling populer Hikayat Seri Rama versi Malaysia. Sedangkan wayang Jawa mengambil cerita dari Mahabarata, dan bagi orang melayu, menyebut Hikayat Pendawa dan dari sikulus Panji. Perlengkapan pertunjukan hampir sama dengan Wayang Kulit Purwa Jawa yaitu menggunakan kele (kelir), lampu pelita (blencong Jawa), kepyak, kothak (cempala Jawa). Penyajian Wayang Kedek diiringi ansambel musik yang instrumennya terdiri dari: serum (suling), gedombak dan geduk (tambur), Lukmong (gong kecil) kecing/canang (gong). Sedangkan Wayang Melayu (Jawa) diiringi musik yang ricikkannya terdiri dari: satu rancak bonang horizon­tal, dua gendang, saw simbal, canang dan -rehab.</p>
<p>Pertunjukan Wayang Kedek diselenggarakan untuk menyertai upacara lingkaran hidup manusia, dan penyajiannya dibuatkan tempat tersendiri yang disebut panggong. Sedangkan penontonnya di luar panggung, serta sebelum perlunjukan dimulai selalu diawali dengan upacara pembukaan yang disebut buka panggong, yaitu dalang melakukan penghormatan terhadap tanah, air dan api yang memiliki kekuatan gaib agar memberikan bantuan kepada dalang selama pementasan berlangsung. Pertunjukan Wayang Kedek yang menyertai upacara perkawinan, khitanan, kelahiran, panenan berlangsung selama 3 &#8211; 5 hari dimulai dari jam 21.00 dan berakhir pada jam 24.00. Pada malam akhir pertunjukan dilakukan upacara penutupan yang disebut Lepas Permainan.</p>
<p>Para penonton Wayang Kedek di Kelantan laki-laki dan perempuan selalu terpisah. Apakah itu suatu naluri kultus matahari dan bulan yang kuna atau hanya adat sopan santun yang lahir dari pengaruh Islam. Laki-laki di sisi kiri dan perempuan di sisi kanan, dan mereka duduk di luar panggung. Sebelum pertunjukan wayang di mulai, boneka wayang dijajar (di simping), di sebelah kanan di tancapkan boneka wayang dari kelompok dunia atas seperti para dewa Hindu beserta pengikutnya. Sedangkan di tengah layar ditancapkan tokoh To’ Mahasiku (dukun), Pohon Beringin (gunungan), Pa’ Dogah (Semar) dan raja Seri Rama.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/anggatoji.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/anggatoji.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/anggatoji.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/anggatoji.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/anggatoji.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/anggatoji.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/anggatoji.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/anggatoji.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/anggatoji.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/anggatoji.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/anggatoji.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/anggatoji.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/anggatoji.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/anggatoji.wordpress.com/26/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anggatoji.wordpress.com&amp;blog=5594483&amp;post=26&amp;subd=anggatoji&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anggatoji.wordpress.com/2008/12/07/wayang-wayang-wahyu-gedog-potehi-kedek/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/79b01384275ab89cc6dbe67d8adc7f96?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">anggatoji</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://anggatoji.files.wordpress.com/2008/12/750px-the_wayang_portal.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Aneka Wayang</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Wayang Purwa</title>
		<link>http://anggatoji.wordpress.com/2008/12/07/wayang-purwa/</link>
		<comments>http://anggatoji.wordpress.com/2008/12/07/wayang-purwa/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Dec 2008 07:45:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>anggatoji</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wayang Purwa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anggatoji.wordpress.com/?p=24</guid>
		<description><![CDATA[Wayang Kulit Purwa merupakan jenis wayang yang paling populer di masyarakat sampai saat ini. Wayang Kulit Purwa mengambil cerita dari kisah Mahabarata dan Ramayana.  Peraga wayang yang dimainkan oleh seorang dalang terbuat dari lembaran kulit kerbau (atau sapi) yang dipahat menurut bentuk tokoh wayang dan kemudian disungging dengan warna warni yang mencerminkan perlambang karakter dari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anggatoji.wordpress.com&amp;blog=5594483&amp;post=24&amp;subd=anggatoji&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Wayang Kulit Purwa</strong> merupakan jenis wayang yang paling populer di masyarakat sampai saat ini. Wayang Kulit Purwa mengambil cerita dari kisah Mahabarata dan Ramayana.  Peraga wayang yang dimainkan oleh seorang dalang terbuat dari lembaran kulit kerbau (atau sapi) yang dipahat menurut bentuk tokoh wayang dan kemudian disungging dengan warna warni yang mencerminkan perlambang karakter dari sang Tokoh.</p>
<p>Agar lembaran wayang itu tidak lemas, digunakan “kerangka penguat” yang mem­buatnya kaku. Kerangka itu disebut cempurit, terbuat dari tanduk kerbau atau kulit penyu. Jenis wayang ini tersebar hampir di seluruh Jawa dan daerah transmigrasi, bahkan juga di Suriname  di benua Amerika bagian selatan.</p>
<p>Pergelaran Wayang Kulit Purwa diiringi dengan seperangkat gamelan sedangkan penyanyi wanita yang menyanyikan gending-­gending tertentu, disebut pesinden atau waranggana.</p>
<p>Antara dalang, pesinden, gamelan di satu sisi dan penonton di sisi lain dibatasi oleh sebuah layar kain berukuran sekitar 125 cm X 600 cm, yang disebut kelir. Di atas dalang dipasang lampu yang disebut blencong. Dengan memainkan wayang di sinar blencong, penonton di balik kelir dapat menyaksikan gerak bayangan wayang itu. Dalam bahasa Jawa, wayang atau wewayangan memang berarti bayangan.</p>
<p>Semula pergelaran Wayang Kulit selalu dilakukan pada malam hari, semalam suntuk. Karena itulah diperlukan alat penerangan, semacam lampu minyak yang disebut blencong. Baru mulai tahun 1930-an beberapa dalang mulai mempergelarkan Wayang Kulit Purwa pada siang hari. Kemudian, sejak tahun 1955­an beberapa orang dalang muda memprakarsai pemampatan waktu pergelaran menjadi hanya sekitar empat jam. Upaya memampatkan pergelaran wayang menjadi empat jam atau kurang ini, terutama hanya untuk melayani para wisatawan manca negara yang umumnya tidak betah menonton pertunjukan seni yang berlama-lama.</p>
<p>Usaha beberapa orang dalang untuk mema­syarakatkan Wayang Kulit Purwa dengan meng­indonesiakan bahasa pengantarnya pernah dicoba, tetapi gagal.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/anggatoji.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/anggatoji.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/anggatoji.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/anggatoji.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/anggatoji.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/anggatoji.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/anggatoji.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/anggatoji.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/anggatoji.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/anggatoji.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/anggatoji.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/anggatoji.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/anggatoji.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/anggatoji.wordpress.com/24/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anggatoji.wordpress.com&amp;blog=5594483&amp;post=24&amp;subd=anggatoji&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anggatoji.wordpress.com/2008/12/07/wayang-purwa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/79b01384275ab89cc6dbe67d8adc7f96?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">anggatoji</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Wayang Orang</title>
		<link>http://anggatoji.wordpress.com/2008/12/07/wayang-orang-2/</link>
		<comments>http://anggatoji.wordpress.com/2008/12/07/wayang-orang-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Dec 2008 07:43:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>anggatoji</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wayang orang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anggatoji.wordpress.com/?p=22</guid>
		<description><![CDATA[Wayang Orang adalah seni drama tari yang mengambil cerita Ramayana dan Maha­barata sebagai induk ceritanya. Dari segi cerita, Wayang Orang adalah perwujudan drama tari dari Wayang Kulit Purwa. Pada mulanya, yakni pertengahan abad ke-18, semua penari Wayang Orang adalah penari pria, tidak ada penari wanita. Jadi agak mirip dengan pertunjukan ludruk di Jawa Timur dewasa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anggatoji.wordpress.com&amp;blog=5594483&amp;post=22&amp;subd=anggatoji&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Wayang Orang </strong>adalah seni drama tari yang mengambil cerita Ramayana dan Maha­barata sebagai induk ceritanya. Dari segi cerita, Wayang Orang adalah perwujudan drama tari dari Wayang Kulit Purwa. Pada mulanya, yakni pertengahan abad ke-18, semua penari Wayang Orang adalah penari pria, tidak ada penari wanita. Jadi agak mirip dengan pertunjukan ludruk di Jawa Timur dewasa ini.</p>
<p>Dalam berbagai buku mengenai budaya wayang disebutkan, Wayang Orang diciptakan oleh Kangjeng Pangeran Adipati Arya Mangkunegara I (1757 &#8211; 1795). Para pemainnya waktu itu terdiri atas abdi dalem istana.<br />
Pertama kali Wayang Orang itu dipentaskan secara terbatas pada tahun 1760. Namun, barn pada pemerintahan Mangkunegara V pertunjukan Wayang Orang itu lebih memasyarakat, walaupun masih tetap terbatas dinikmati oleh kerabat keraton dan para pegawainya. Pemasyarakatan seni Wayang Orang hampir bersamaan waktunya dengan lahirnya drama tari Langendriyan.</p>
<p>Pada masa pemerintahan Mangkunegara VII (1916 -1944) kesenian Wayang Orang mulai diperkenalkan pada masyarakat di luar tembok keraton. Usaha memasyarakatkan kesenian ini makin pesat ketika Sunan Paku Buwana X (1893-1939) memprakarsai pertunjukan Wayang Orang bagi masyarakat umum di Balekambang, Taman Sri Wedari, dan di Pasar Malam yang diselenggarakan di alun-alun. Para pemainnya pun, bukan lagi hanya para abdi dalem, melainkan juga orang-orang di luar keraton yang berbakat menari.</p>
<p>Penyelenggaraan pertunjukan Wayang Orang secara komersial baru dimulai pada tahun 1922. Mulanya, dengan tujuan mengumpulkan dana bagi kongres kebudayaan. Kemudian pada tahun 1932, pertama kali Wayang Orang masuk dalam siaran radio, yaitu Solosche Radio Vereeniging, yang mendapat sambutan hebat dari masyarakat.</p>
<p>Wayang Orang juga menyebar ke Yogyakarta. Pada zaman pemerintahan Sultan Hamengku Buwana VII (1877 -1921) keraton Yogyakarta dua kali mempergelarkan pementasan Wayang Orang untuk tontonan kerabat keraton. Waktu itu lakonnya adalah Sri Suwela dan Pregiwa &#8211; Pregiwati. Wayang Orang di Yogyakarta ini disebut Wayang Wong Mataraman.</p>
<p>Pakaian para penari Wayang Orang pada awalnya masih amat sederhana, tidakjauh berbeda dengan pakaian adat keraton sehari-hari, hanya ditambah dengan selendang tari. Baru pada zaman Mangku­negara VI (1881-1896), penari Wayang Orang mengenakan irah-irahan terbuat dari kulit ditatah apik, kemudian disungging dengan perada.</p>
<p>Sejalan dengan perkembangan Wayang Orang. terciptalah gerak-gerak tari baru yang diciptakan oleh para seniman pakar tari keraton. Gerak tari baru itu antara lain adalah sembahan, sabetan, lumaksono. ngombak banyu, dan srisig.</p>
<p>Karena ternyata kesenian Wayang Orang mendapat sambutan hangat dari masyarakat, bermun­culanlah berbagai perkumpulan Wayang Orang; mula-mula dengan status amatir, kemudian menjadi profesional. Perkumpulan Wayang orang yang cukup tua dan terkenal, di antaranya Wayang Orang (WO Sriwedari di Surakarta dan WO Ngesti Pandawa di Semarang. Wayang Orang Sriwedari merupakan kelompok budaya komersial yang pertama dalam bidang seni Wayang Orang. Didirikan tahun 1911, per­kumpulan Wayang Orang ini mengadakan pentas: secara tetap di `kebon raja’ yakni taman hiburan umum milik Keraton Kasunanan Surakarta.</p>
<p>Patut juga dicatat, peranan masyarakat keturunan Cina di Surakarta dan Malang yang aktif mengem­bangkan kesenian Wayang Orang. Mereka bergabung dalam perkumpulan kesenian PMS (Perkumpulan Ma­syarakat Surakarta) yang secara berkala mengadakan latihan tari dan pada waktu-waktu tertentu mengadakan pementasan untuk pengumpulan dana dan amal.</p>
<p>Perkembangan seni Wayang Orang di Surakarta lebih bersifat populer dibandingkan di Yogyakarta. Kreasi seniman Surakarta untuk melengkapi pakaian tari Wayang Orang, mengarah pada `glamour’ dengan kemewahan tata panggung. Untuk pemeran tokoh wayang bambangan seperti Arjuna, Abimanyu, dan sejenisnya, digunakan penari wanita. Sedangkan di Yogyakarta tetap mempertahankan penari pria.</p>
<p>Di Jakarta, pada tahun 1960 &#8211; 1990, pernah pula berdiri beberapa perkumpulan Wayang Orang, di antaranya Sri Sabda Utama, Ngesti Budaya, Ngesti Wandawa, Cahya Kawedar, Adi Luhung, Ngesti Widada, Panca Murti, dan yang paling lama bertahan Bharata.</p>
<p>Pentas seni Wayang Orang juga melahirkan seniman-seniman tari yang menonjol, antara lain Sastradirun, Rusman, Darsi, dan Surana dari Surakarta; Sastrasabda dan Nartasabda dari Semarang; Samsu dan Kies Slamet dari Jakarta.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/anggatoji.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/anggatoji.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/anggatoji.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/anggatoji.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/anggatoji.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/anggatoji.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/anggatoji.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/anggatoji.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/anggatoji.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/anggatoji.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/anggatoji.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/anggatoji.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/anggatoji.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/anggatoji.wordpress.com/22/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anggatoji.wordpress.com&amp;blog=5594483&amp;post=22&amp;subd=anggatoji&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anggatoji.wordpress.com/2008/12/07/wayang-orang-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/79b01384275ab89cc6dbe67d8adc7f96?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">anggatoji</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Wayang Beber</title>
		<link>http://anggatoji.wordpress.com/2008/12/07/wayang-orang/</link>
		<comments>http://anggatoji.wordpress.com/2008/12/07/wayang-orang/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Dec 2008 07:34:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>anggatoji</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wayang Beber]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anggatoji.wordpress.com/?p=17</guid>
		<description><![CDATA[Selama berabad-abad, budaya wayang berkembang menjadi beragam jenis. Kebanyakan jenis jenis wayang itu tetap nenggunakan Mahabarata dan Ramayana sebagai induk ceritanya. Sedangkan alat peraganya pun berkembang menjadi beberapa macam, antara lain yang terbuat dari kertas, kain, kulit, kayu, dan juga Wayang Orang. Perkembangan jenis wayang ini juga dipengaruhi oleh keadaan budaya daerah setempat. Misalnya Wayang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anggatoji.wordpress.com&amp;blog=5594483&amp;post=17&amp;subd=anggatoji&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Selama berabad-abad, budaya wayang berkembang menjadi beragam jenis. Kebanyakan jenis jenis wayang itu tetap nenggunakan Mahabarata dan Ramayana sebagai induk ceritanya. Sedangkan alat peraganya pun berkembang menjadi beberapa macam, antara lain yang terbuat dari kertas, kain, kulit, kayu, dan juga Wayang Orang.</p>
<p>Perkembangan jenis wayang ini juga dipengaruhi oleh keadaan budaya daerah setempat. Misalnya Wayang Kulit Purwa, yang berkembang pula pada ragam kedaerahan menjadi Wayang Kulit Purwa khas daerah, seperti Wayang Cirebon, Wayang Bali, Wayang Betawi, Wayang Banjar, dll.</p>
<p>Jenis-jenis wayang yang ada di Indonesia ada puluhan jumlahnya. Namun, yang terpenting di antaranya adalah:</p>
<p>a. Wayang Beber</p>
<p>berupa selembar kertas atau kain yang berukuran sekitar 80 cm X 12 meter, yang digambari dengan beberapa adegan lakon wayang tertentu. Satu gulung wayang beber biasanya terdiri atas 16 adegan. Pada saat pergelaran bagian gambar yang menampilkan adegan lakon itu dibuka dari gulungannya, dan sang Dalang menceritakan kisah yang terlukis dalam setiap adegan itu.<br />
Jenis wayang ini oleh sebagian orang dianggap yang paling tua, tetapi sebagian lainnya mengatakan Wayang kulitlah yang paling mula diciptakan orang di Pulau Jawa. Sampai tahun 1986, masih ada dua orang juru sungging (pelukis) Wayang beber. Yang satu tinggal di Surakarta, di kampung Kadipiro, namanya Hadisuwarno. Sedangkan yang seorang lagi bernama Musyafiq, tinggal di Surabaya.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/anggatoji.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/anggatoji.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/anggatoji.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/anggatoji.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/anggatoji.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/anggatoji.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/anggatoji.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/anggatoji.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/anggatoji.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/anggatoji.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/anggatoji.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/anggatoji.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/anggatoji.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/anggatoji.wordpress.com/17/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anggatoji.wordpress.com&amp;blog=5594483&amp;post=17&amp;subd=anggatoji&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anggatoji.wordpress.com/2008/12/07/wayang-orang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/79b01384275ab89cc6dbe67d8adc7f96?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">anggatoji</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jenis wayang</title>
		<link>http://anggatoji.wordpress.com/2008/12/07/jenis-wayang/</link>
		<comments>http://anggatoji.wordpress.com/2008/12/07/jenis-wayang/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Dec 2008 07:26:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>anggatoji</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jenis wayang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anggatoji.wordpress.com/?p=12</guid>
		<description><![CDATA[1.Wayang Wahyu, Gedog, Potehi, Kedek Wayang Suluh tergolong wayang modern, karena baru tercipta setelah zaman kemerdekaan. 2. Wayang orang. Wayang Orang adalah seni drama tari yang mengambil cerita Ramayana dan Maha­barata sebagai induk ceritanya 3. Wayang Golek, Menak, Klitik, Krucil Wayang Golek Sunda menggunakan peraga wayang berbentuk boneka-boneka kecil, dengan semacam cempurit untuk pegangan tangan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anggatoji.wordpress.com&amp;blog=5594483&amp;post=12&amp;subd=anggatoji&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>1.Wayang Wahyu, Gedog, Potehi, Kedek</p>
<p>Wayang Suluh tergolong wayang modern, karena baru tercipta setelah zaman kemerdekaan.</p>
<p>2. Wayang orang.</p>
<p>Wayang Orang adalah seni drama tari yang mengambil cerita Ramayana dan Maha­barata sebagai induk ceritanya</p>
<p>3. Wayang Golek, Menak, Klitik, Krucil</p>
<p>Wayang Golek Sunda menggunakan peraga wayang berbentuk boneka-boneka kecil, dengan semacam cempurit untuk pegangan tangan Ki Dalang.</p>
<p>4.  Wayang Purwa.</p>
<p>Wayang Kulit Purwa merupakan jenis wayang yang paling populer di masyarakat sampai saat ini. Wayang Kulit Purwa mengambil cerita dari kisah Mahabarata dan Ramayana.</p>
<p>5. Wayang Beber.</p>
<p>Selama berabad-abad, budaya wayang berkembang menjadi beragam jenis. Kebanyakan jenis jenis wayang itu tetap nenggunakan Mahabarata dan Ramayana.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/anggatoji.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/anggatoji.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/anggatoji.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/anggatoji.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/anggatoji.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/anggatoji.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/anggatoji.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/anggatoji.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/anggatoji.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/anggatoji.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/anggatoji.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/anggatoji.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/anggatoji.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/anggatoji.wordpress.com/12/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anggatoji.wordpress.com&amp;blog=5594483&amp;post=12&amp;subd=anggatoji&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anggatoji.wordpress.com/2008/12/07/jenis-wayang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/79b01384275ab89cc6dbe67d8adc7f96?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">anggatoji</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Wayang dalam pembentukan bangsa</title>
		<link>http://anggatoji.wordpress.com/2008/12/07/wayang-dalam-pembentukan-bangsa/</link>
		<comments>http://anggatoji.wordpress.com/2008/12/07/wayang-dalam-pembentukan-bangsa/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Dec 2008 06:47:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>anggatoji</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wayang dalam pembentukan bangsa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anggatoji.wordpress.com/?p=6</guid>
		<description><![CDATA[PERANAN WAYANG DALAM MENUNJANG PENDIDIKAN KEPRIBADIAN BANGSA. Secara lahiriah, kesenian wayang merupakan hiburan yang mengasyikkan baik ditinjau dari segi wujud maupun seni pakelirannya. Namun demikian dibalik apa yang tersurat ini terkandung nilai adiluhung sebagai santapan rohani secara tersirat. Peranan seni dalam pewayangan merupakan unsur dominan. Akan tetapi bilamana dikaji secara mendalam dapat ditelusuri nilai-nilai edukatif [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anggatoji.wordpress.com&amp;blog=5594483&amp;post=6&amp;subd=anggatoji&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>PERANAN WAYANG DALAM MENUNJANG PENDIDIKAN KEPRIBADIAN BANGSA.<br />
Secara lahiriah, kesenian wayang merupakan hiburan yang mengasyikkan baik ditinjau dari segi wujud maupun seni pakelirannya. Namun demikian dibalik apa yang tersurat ini terkandung nilai adiluhung sebagai santapan rohani secara tersirat.<br />
Peranan seni dalam pewayangan merupakan unsur dominan. Akan tetapi bilamana dikaji secara mendalam dapat ditelusuri nilai-nilai edukatif yang sangat penting dalam kehidupan manusia.<br />
Unsur-unsur pendidikan tampil dalam bentuk pasemon atau perlambang. Oleh karena itu sampai dimana seseorang dapat melihat nilai- nilai tersebut tergantung dari kemampuan menghayati dan mencerna bentuk-bentuk simbol atau lambang dalam pewayangan. Dalam lakon-lakon tertentu misalnya baik yang diambil dari Serat Ramayana maupun Mahabarata sebenarnya dapat diambil pelajaran yang mengandung pendidikan. Bagaimana peranan Kesenian Wayang sebagai sarana penunjang Pendidikan Kepribadian Bangsa, rasanya perlu mendapat tinjauan secara khusus. Berdasarkan sejarahnya, kesenian wayang jelas lahir di bumi Indonesia. Sifat local genius yang dimiliki bangsa Indonesia, maka secara sempurna terjadi pembauran kebudayaan asing, sehingga tidak terasa sifat asingnya.<br />
Berbicara kesenian wayang dalam hubungannya dengan Pendidikan Kepribadian Bangsa tidak dapat lepas dari pada tinjauan kesenian wayang itu sendiri dengan falsafah hidup bangsa Indonesia yaitu Pancasila. Pancasila sebagai falsafah negara dan pandangan hidup bangsa Indonesia, merupakan ciri khusus yang dapat membedakan bangsa Indonesia dengan bangsa lain. Pancasila adalah norma yang mengatur tingkah laku dan perikehidupan bangsa. Menurut TAP MPR &#8211; Rl No. II/ MPR/1993 tentang Garis-Garis Besar Haluan Negara ; disitu ditandaskan bahwa untuk mewujudkan tujuan nasional sebagaimana termaktub dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. perlu menetapkan Ketetapan yang mengatur Garis- Garis Besar Haluan Negara yang didasarkan atas aspirasi dan Kepribadian Bangsa demi penghayatan dan pengamalan kehidupan kenegaraan yang demokratis &#8211; konstitusional berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.<br />
Pengertian Kepribadian Bangsa adalah suatu ciri khusus yang konsisten dari bangsa Indonesia yang dapat memberikan identitas khusus, sehingga secara jelas dapat dibedakan dengan bangsa lain. Rumusan Pancasila secara resmi ditetapkan dengan syah sebagai falsafah Negara dan pandangan hidup bangsa Indonesia sejak berlakunya Undang-Undang Dasar 1945 sebagai Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia. Dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 alinea 4 tercanang rumusan Pancasila yang berbunyi:<br />
Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia. dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Jiwa Pancasila seperti yang termaktub dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 tersebut, bukanlah masalah yang baru dalam dunia pewayangan.<br />
·    Asas Ketuhanan Yang Maha Esa.<br />
Dalam dunia pewayangan dikenal tokoh yang biasa disebut &#8220;Hyang Suksma Kawekas&#8221; Tokoh ini tidak pernah diwujudkan dalam bentuk wayang, tetapi diakui sebagai Dewa yang Tertinggi. Tokoh Dewa &#8211; Dewa yang diwujud kan dalam bentuk wayang, misalnya: Batara Guru, Batara Narada, Batara Wisnu, Batara Brahma, Batara Kamajaya dan lain sebagainya dalam pewayangan digambarkan seperti manusia biasa. Mereka juga dilukiskan memiliki watak serta tabiat yang banyak persamaannya dengan manusia lumrah. Dalam ceritera-ceritera mereka sering pula berbuat salah, bahkan tidak jarang terpaksa minta bantuan manusia dalam menghadapi hal-hal tertentu. Kekawin Arjunawiwaha misalnya, merupakan contoh yang jelas. Pada saat raksasa Nirwatakawaca mengamuk di Suralaya karena maksudnya meminang Dewi Supraba ditolak para Dewa. Para Dewa tidak mampu menghadapinya. Untuk mengamankan Suralaya para Dewa minta bantuan bagawan Mintaraga atau bagawan Ciptaning yaitu nama Arjuna saat menjadi pertapa. Sebagai imbalan jasa karena bagawan Ciptaning berhasil membunuh Raksasa Nirwatakawaca diberi hadiah Dewi Supraba dan Pusaka Pasopati. Disini terlihat bahwa kebenaran yang bersifat mutlak hanya dimiliki Dewa Tertinggi yaitu Hyang Suksma Kawekas. Ajaran ini tidak jauh berbeda dengan ajaran yang terkandung di dalam sila Ketuhanan Yang Maha Esa<br />
·    Asas Kemanusiaan.<br />
Jiwa yang terkandung dalam sila Kemanusiaan, pada hakekatnya suatu ajaran untuk mengagung-agungkan norma-norma kebenaran. Bahwasanya kebenaran adalah di atas segala- galanya. Kendatipun kebenaran mutlak hanya berada di tangan Tuhan Yang Maha Esa, namun untuk menjaga keseimbangan kehidupan antara manusia perlu dipupuk kesadaran tenggang rasa yang besar.<br />
Kebenaran yang sejati mempunyai sifat unifersil, artinya berlaku kapan saja, dimana saja dan oleh siapapun Juga. Tokoh dalam dunia pewayangan yang memiliki sifat dan watak mengabdi kebenaran banyak jumlahnya. Sebagai contoh dapat dipetik dari Serat Ramayana. Di dalam Serat Ramayana dikenal putera Alengka bernama Raden Wibisono yang mempunyai watak mencerminkan ajaran kemanusiaan.<br />
Kisah inti dalam Serat Ramayana berkisar pada kemelut yang terjadi di antara Prabu Dasamuka yang merampas isteri Rama. Tindakan Prabu Dasamuka ini dinilai berada diluar batas kemanusiaan. Raden Wibisono sadar akan hal tersebut, Prabu Dasamuka dianggap melanggar norma perikemanusiaan . Oleh karena itu Raden Wibisono ikut aktif membantu Raden Rama untuk memerangi saudaranya sendiri. Demi kemanusiaan Raden Wibisono rela mengorbankan saudara sendiri yang dianggap berada difihak yang salah.<br />
·    Asas Persatuan<br />
Dalam dunia pewayangan tokoh yang memilih jiwa kebangsaan tinggi terlukis pada diri tokoh Kumbakarna digambarkan dalam bentuk raksasa, namun memiliki jiwa ksatria. Sebagai adik Raja Dasamuka, Kumbakarna memiliki sifat yang berbeda. Kumbakarna menentang tindakan Prabu Dasamuka yang merampas Dewi Sinta isteri Rama.<br />
Sikap menentang sama dengan sikap Raden Wibisono, tetapi jalan yang ditempuh berbeda. Raden Wibisono menentang dengan aktif memihak Raden Rama, tetapi Kumbakarna tetap berfihak Alengka demi negaranya. Niatnya bukan perang membela kakaknya, tetapi bagaimanapun juga Alengka adalah negaranya yang wajib dibela walaupun harus mengorbankan jiwa raga.<br />
Oleh karena itu nama Kumbakarna tercanang sebagai nasionalis yang sejati. Benar atau salah Alengka adalah negaranya.<br />
·    Asas Kerakyatan / Kedaulatan rakyat.<br />
Dalam dunia pewayangan dikenal tokoh punakawan yang bernama Semar. Semar adalah punakawan dari para ksatria yang luhur budinya dan baik pekertinya. Sebagai punakawan Semar adalah abdi, tetapi berjiwa pamong, sehingga oleh para ksatria Semar dihormati.<br />
Penampilan tokoh Semar dalam pewayangan sangat menonjol. Walaupun dalam kehidupan sehari-hari tidak lebih dari seorang abdi, tetapi pada saat-saat tertentu Semar sering berperan sebagai seorang penasehat dan penyelamat para ksatria disaat menghadapi bahaya baik akibat ulah sesama manusia maupun akibat ulah para Dewa. Dalam pewayangan tokoh Semar sering dianggap sebagai Dewa yang ngejawantah atau Dewa yang berujud manusia. Menurut Serat Kanda dijelaskan bahwa Semar sebenarnya adalah anak Syang Hyang Tunggal yang semula bernama Batara Ismaya saudara tua dari Batara Guru.<br />
Semar sebagai Dewa yang berujud manusia mengemban tugas khusus menjaga ketenteraman dunia dalam penampilan sebagai rakyat biasa. Para ksatria utama yang berbudi luhur mempunyai keyakinan bilamana menurut segala nasehat Semar akan mendapatkan kebahagiaan. Semar dianggap memiliki kedaulatan yang hadir ditengah-tengah para ksatria sebagai penegak kebenaran dan keadilan. Dengan kata lain Semar adalah simbul rakyat yang merupakan sumber kedaulatan bagi para ksatria atau yang berkuasa.<br />
·    Asas Keadilan Sosial<br />
Unsur keadilan dalam dunia pewayangan dilambangkan dalam diri tokoh Pandawa. Pandawa yang terdiri dari Puntadewa, Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa secara bersama- sama memerintah Negara Amarta. Kelimanya digambarkan bersama bahagia dan bersama-sama menderita Tiap-tiap tokoh Pandawa mempunyai ciri watak yang berlainan antara satu dengan lainnya, namun dalam segala tingkah lakunya selalu bersatu dalam menghadapi segala tantangan. Puntadewa yang paling tua sangat terkenal sebagai raja yang adil dan jujur ; bahkan diceriterakan berdarah putih. Puntadewa dianggap titisan Dewa Dharma yang memiliki watak menonjol selalu mementingkan kepentingan orang lain, rasa sosialnya sangat besar.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/anggatoji.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/anggatoji.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/anggatoji.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/anggatoji.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/anggatoji.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/anggatoji.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/anggatoji.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/anggatoji.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/anggatoji.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/anggatoji.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/anggatoji.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/anggatoji.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/anggatoji.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/anggatoji.wordpress.com/6/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anggatoji.wordpress.com&amp;blog=5594483&amp;post=6&amp;subd=anggatoji&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anggatoji.wordpress.com/2008/12/07/wayang-dalam-pembentukan-bangsa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/79b01384275ab89cc6dbe67d8adc7f96?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">anggatoji</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sejarahnya Wayang</title>
		<link>http://anggatoji.wordpress.com/2008/12/05/sejarahnya-wayang/</link>
		<comments>http://anggatoji.wordpress.com/2008/12/05/sejarahnya-wayang/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Dec 2008 03:46:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>anggatoji</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wayang dalam pembentukan bangsa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anggatoji.wordpress.com/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[Sekilas Sejarah Wayang di Indonesia wayang berasal dari kata wayangan yaitu sumber ilham dalam menggambar wujud tokoh dan cerita sehingga bisa tergambar jelas dalam batin si penggambar karena sumber aslinya telah hilang di awalnya, wayang adalah bagian dari kegiatan religi animisme menyembah &#8216;hyang&#8217;, itulah inti-nya dilakukan antara lain di saat-saat panenan atau taneman dalam bentuk [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anggatoji.wordpress.com&amp;blog=5594483&amp;post=3&amp;subd=anggatoji&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Sekilas Sejarah Wayang di Indonesia</strong></p>
<p>wayang berasal dari kata wayangan<br />
yaitu sumber ilham dalam menggambar wujud tokoh dan cerita<br />
sehingga bisa tergambar jelas dalam batin si penggambar<br />
karena sumber aslinya telah hilang<br />
di awalnya, wayang adalah bagian dari kegiatan religi animisme<br />
menyembah &#8216;hyang&#8217;, itulah inti-nya<br />
dilakukan antara lain di saat-saat panenan atau taneman<br />
dalam bentuk upacara ruwatan, tingkeban, ataupun &#8216;merti desa&#8217;<br />
agar panen berhasil atau pun agar desa terhindar dari segala mala bahaya<br />
di tahun (898 &#8211; 910) M wayang sudah menjadi wayang purwa<br />
namun tetap masih ditujukan untuk menyembah para sanghyang<br />
seperti yang tertulis dalam prasasti balitung<br />
sigaligi mawayang buat hyang, macarita bhima ya kumara<br />
(terjemahan kasaran-nya kira-kira begini :<br />
menggelar wayang untuk para hyang<br />
menceritakan tentang bima sang kumara)<br />
di jaman mataram hindu ini,<br />
ramayana dari india berhasil dituliskan dalam bahasa jawa kuna (kawi)<br />
<span id="more-3"></span> pada masa raja darmawangsa, 996 &#8211; 1042 M<br />
mahabharata yang berbahasa sansekerta delapan belas parwa<br />
dirakit menjadi sembilan parwa bahasa jawa kuna<br />
lalu arjuna wiwaha berhasil disusun oleh mpu kanwa<br />
di masa raja erlangga<br />
sampai di jaman kerajaan kediri dan raja jayabaya<br />
mpu sedah mulai menyusun serat bharatayuda<br />
yang lalu diselesaikan oleh mpu panuluh<br />
tak puas dengan itu saja,<br />
mpu panuluh lalu menyusun serat hariwangsa<br />
dan kemudian serat gatutkacasraya<br />
menurut serat centhini,<br />
sang jayabaya lah yang memerintahkan menuliskan ke rontal<br />
(daun lontar, disusun seperti kerai, disatukan dengan tali)<br />
di jaman awal majapahit wayang digambar di kertas jawi<br />
(saya juga tidak tahu, apa arti &#8216;kertas jawi&#8217; ini )<br />
dan sudah dilengkapi dengan berbagai hiasan pakaian<br />
masa-masa awal abad sepuluh<br />
bisa kita sebut sebagai globalisasi tahap satu ke tanah jawa<br />
kepercayaan animisme mulai digeser oleh pengaruh agama hindu<br />
yang membuat &#8216;naik&#8217;-nya pamor tokoh &#8216;dewa&#8217;<br />
yang kini &#8216;ditempatkan&#8217; berada di atas &#8216;hyang&#8217;<br />
abad duabelas sampai abad limabelas<br />
adalah masa &#8216;sekularisasi&#8217; wayang tahap satu<br />
dengan mulai disusunnya berbagai mithos<br />
yang mengagungkan para raja sebagai keturunan langsung para dewa<br />
abad limabelas adalah dimulainya globalisasi jawa tahap dua<br />
kini pengaruh budaya islam yang mulai meresap tanpa terasa<br />
dan pada awal abad keenambelas berdirilah kerajaan demak<br />
( 1500 &#8211; 1550 M )<br />
ternyata banyak kaidah wayang yang berbenturan dengan ajaran islam<br />
maka raden patah memerintahkan mengubah beberapa aturan wayang<br />
yang segera dilaksanakan oleh para wali secara gotongroyong<br />
wayang beber karya prabangkara (jaman majapahit) segera direka-ulang<br />
dibuat dari kulit kerbau yang ditipiskan<br />
(di wilayah kerajaan demak masa itu,<br />
sapi tidak boleh dipotong<br />
untuk menghormati penganut hindu yang masih banyak<br />
agar tidak terjadi kerusuhan berthema sara . . . )<br />
gambar dibuat menyamping, tangan dipanjangkan,<br />
digapit dengan penguat tanduk kerbau, dan disimping<br />
sunan bonang menyusun struktur dramatika-nya<br />
sunan prawata menambahkan tokoh raksasa dan kera<br />
dan juga menambahkan beberapa skenario cerita<br />
raden patah menambahkan tokoh gajah dan wayang prampogan<br />
sunan kalijaga mengubah sarana pertunjukan yang awalnya dari kayu<br />
kini terdiri dari batang pisang, blencong, kotak wayang, dan gunungan<br />
sunan kudus kebagian tugas men-dalang<br />
&#8216;suluk&#8217; masih tetap dipertahankan,<br />
dan ditambah dengan greget saut dan adha-adha<br />
pada masa sultan trenggana<br />
bentuk wayang semakin dipermanis lagi<br />
mata, mulut, dan telinga mulai ditatahkan<br />
(tadinya hanya digambarkan di kulit kerbau tipis)<br />
susuhunan ratu tunggal, pengganti sultan trenggana, tidak mau kalah<br />
dia ciptakan model mata liyepan dan thelengan<br />
selain wayang purwa sang ratu juga memunculkan wayang gedhog<br />
yang hanya digelar di lingkungan dalam keraton saja<br />
sementara untuk konsumsi rakyat jelata<br />
sunan bonang menyusun wayang damarwulan<br />
jaman kerajaan pajang memberikan ciri khas baru<br />
wayang gedhog dan wayang kulit mulai ditatah tiga dimensi<br />
(mulai ada lekukan pada tatahan)<br />
bentuk wayang semakin ditata :<br />
raja dan ratu memakai mahkota/topong<br />
rambut para satria mulai ditata, memakai praba<br />
dan juga mulai ditambahkan celana dan kain<br />
di jaman ini pula lah sunan kudus memperkenalkan wayang golek dari kayu<br />
sedang sunan kalijaga menyusun wayang topeng dari kisah-kisah wayang gedog<br />
dengan demikian wayang gedog pun sudah mulai memasyarakat di luar keraton<br />
di masa mataram islam wayang semakin berkembang<br />
panembahan senapati menambahkan berbagai tokoh burung dan hewan hutan<br />
dan rambut wayang ditatah semakin halus<br />
sultan agung anyakrawati menambahkan unsur gerak pada wayang kulit<br />
pundak, siku, dan pergelangan wayang mulai diberi sendi<br />
posisi tangan berbentuk &#8216;nyempurit&#8217;<br />
dengan adanya inovasi ini muncul pula tokoh baru :<br />
cakil, tokoh raksasa bertubuh ramping yang sangat gesit dan cekatan<br />
sultan agung anyakrakusuma, pengganti beliau, ikut menyumbang<br />
bentuk mata semakin diperbanyak<br />
dan pada beberapa tokoh dibuat beberapa wanda (bentuk)<br />
setelah semua selesai dilaksanakan, diciptakan seorang tokoh baru<br />
raksasa berambut merah bertaji seperti kuku<br />
yang akhirnya disebut &#8216;buta prapatan&#8217; atau &#8216;buta rambutgeni&#8217;<br />
berbagai inovasi dan reka-ulang wayang masih terus berlangsung<br />
dari jaman mataram islam sampai jaman sekarang<br />
a.l. dengan munculnya ide-ide &#8216;nyeleneh&#8217; para dhalang<br />
berbagai peralatan elektronis mulai ikut berperan<br />
dalam tata panggung maupun perangkat gamelan<br />
begitu pula dalam hal tata pakaian yang dikenakan<br />
oleh ki dhalang, pesinden, maupun para juru karawitan<br />
dalam hal skenario-nya pun senantiasa ada pergeseran<br />
sehingga kini sudah semakin sulit dihakimi<br />
mana yang cerita &#8216;pakem&#8217; dan mana &#8216;carangan&#8217;<br />
(cerita tentang asal-usul semar, misalnya,<br />
ada beberapa versi yang semuanya layak untuk dipelajari )<br />
tapi siapa sih yang bisa disebut &#8216;berwenang menghakimi&#8217; ?<br />
walau demikian, garis besar struktur dramatika-nya agaknya relatif tetap<br />
pathet nem, pathet sanga, lalu pathet manyura<br />
relatif standar dan tetap<br />
seperti juga mengenai inti filsafatnya sendiri :<br />
wayang adalah perlambang kehidupan kita sehari-hari</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/anggatoji.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/anggatoji.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/anggatoji.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/anggatoji.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/anggatoji.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/anggatoji.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/anggatoji.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/anggatoji.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/anggatoji.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/anggatoji.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/anggatoji.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/anggatoji.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/anggatoji.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/anggatoji.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anggatoji.wordpress.com&amp;blog=5594483&amp;post=3&amp;subd=anggatoji&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anggatoji.wordpress.com/2008/12/05/sejarahnya-wayang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/79b01384275ab89cc6dbe67d8adc7f96?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">anggatoji</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mungkinkah kita seperti Arjuna</title>
		<link>http://anggatoji.wordpress.com/2008/11/07/mungkinkah-kita-seperti-arjuna/</link>
		<comments>http://anggatoji.wordpress.com/2008/11/07/mungkinkah-kita-seperti-arjuna/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 Nov 2008 08:05:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>anggatoji</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://anggatoji.wordpress.com/?p=32</guid>
		<description><![CDATA[Arjuna jugabernama Gudakesa yang mempunyai arti prajurit maha sakti, berilmu tinggi, cerdik pandai, pendiam, teliti, sopan santun dan berani. Arjuna juga dikenal dengan nama wibawa, satria, utama yang berbudi luhur seorang satria yang berjuang tanpa pamrih untuk menegakkan kebenaran dan keadilan. Arjuna adalah nama seorang tokoh protagonis dalam wiracarita Mahabharata. Ia dikenal sebagai sang Pandawa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anggatoji.wordpress.com&amp;blog=5594483&amp;post=32&amp;subd=anggatoji&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_49" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-49" title="arjuna" src="http://anggatoji.files.wordpress.com/2008/11/arjuna.jpg?w=300&#038;h=199" alt="arjuna" width="300" height="199" /><p class="wp-caption-text">arjuna</p></div>
<p>Arjuna jugabernama Gudakesa yang mempunyai arti prajurit maha sakti, berilmu tinggi, cerdik pandai, pendiam, teliti, sopan santun dan berani. Arjuna juga dikenal dengan nama wibawa, satria, utama yang berbudi luhur seorang satria yang berjuang tanpa pamrih untuk menegakkan kebenaran dan keadilan.</p>
<p>Arjuna adalah nama seorang tokoh protagonis dalam wiracarita Mahabharata. Ia dikenal sebagai sang Pandawa yang menawan parasnya dan lemah lembut budinya. Ia adalah putera Prabu Pandudewanata, raja di Hastinapura dengan Dewi Kunti atau Dewi Prita, yaitu puteri Prabu Surasena, Raja Wangsa Yadawa di Mandura. Arjuna merupakan teman dekat Kresna, yaitu Awatara (penjelmaan) Bhatara Wisnu yang turun ke dunia demi menyelamatkan dunia dari kejahatan. Arjuna juga merupakan salah orang yang sempat menyaksikan “wujud semesta” Kresna menjelang Bharatayuddha berlangsung. Ia juga menerima “Bhagawad Gita” atau “Nyanyian Orang Suci”, yaitu wejangan suci yang disampaikan oleh Kresna kepadanya sesaat sebelum Bharatayuddha berlangsung karena Arjuna masih segan untuk menunaikan kewajibannya.</p>
<p>Arti nama</p>
<p>Dalam bahasa Sanskerta, secara harfiah kata Arjuna berarti “bersinar terang”, “putih”, “bersih”. Dilihat dari maknanya, kata Arjuna bisa berarti “jujur di dalam wajah dan pikiran”.<br />
Arjuna mendapat julukan “Kuruśreṣṭha” yang berarti “keturunan dinasti Kuru yang terbaik”. Ia merupakan manusia pilihan yang mendapat kesempatan untuk mendapat wejangan suci yang sangat mulia dari Kresna, yang terkenal sebagai Bhagawadgita (nyanyian Tuhan).</p>
<p><span id="more-32"></span>Ia memiliki sepuluh nama: Arjuna, Phālguna, Jishnu, Kirti, Shwetawāhana, Wibhatsu, Wijaya, Pārtha, Sawyashachi (juga disamakan dengan Sabyasachi), dan Dhananjaya. Ketika ia ditanya tentang sepuluh namanya sebagai bukti identitas, maka ia menjawab: Sepuluh namaku adalah: Arjuna, Phālguna, Jishnu, Kirti, Shwetawāhana, Wibhatsu, Wijaya, Pārtha, Sawyashachi dan Dhananjaya. Aku dipanggil Dhananjaya ketika aku menaklukkan seluruh raja pada saat Yadnya Rajasuya dan mengumpulkan harta mereka. Aku selalu bertarung sampai akhir dan aku selalu menang, itulah sebabnya aku dipanggil Wijaya.</p>
<p>Kuda yang diberikan Dewa Agni kepadaku berwarna putih, itulah sebabnya aku dipanggil Shwetawāhana. Ayahku Indra memberiku mahkota indah ketika aku bersamanya, itulah sebabnya aku dipanggil Kriti. Aku tidak pernah bertarung dengan curang dalam pertempuran, itulah sebabnya aku dipanggil Wibhatsu. Aku tidak pernah menakuti musuhku dengan keji, aku bisa menggunakan kedua tanganku ketika menembakkan anah panah, itulah sebabnya aku disebut Sawyashachī. Raut wajahku unik bagaikan pohon Arjun, dan namaku adalah “yang tak pernah lapuk”, itulah sebabnya aku dipanggil Arjuna.</p>
<p>Aku lahir di lereng gunung Himawan, di sebuah tempat yang disebut Satsringa pada hari ketika bintang Uttarā Phālgunī berada di atas, itulah sebabnya aku disebut Phālguna. Aku disebut Jishnu karena aku menjadi hebat ketika marah. Ibuku bernama Prithā, sehingga aku disebut juga Pārtha. Aku bersumpah bahwa aku akan menghancurkan setiap orang yang melukai kakakku Yudistira dan menaburkan darahnya di bumi. Aku tak bisa ditaklukkan oleh siapa pun.</p>
<p>Kelahiran</p>
<p>Dalam Mahabharata diceritakan bahwa Raja Hastinapura yang bernama Pandu tidak bisa melanjutkan keturunan karena dikutuk oleh seorang resi. Kunti (istri pertamanya) menerima anugerah dari Resi Durwasa agar mampu memanggil Dewa-Dewa sesuai dengan keinginannya, dan juga dapat memperoleh anak dari Dewa tersebut. Pandu dan Kunti memanfaatkan anugerah tersebut kemudian memanggil Dewa Yama (Dharmaraja; Yamadipati), Dewa Bayu (Marut), dan Dewa Indra (Sakra) yang kemudian memberi mereka tiga putera. Arjuna merupakan putera ketiga, lahir dari Indra, pemimpin para Dewa.</p>
<p>Sifat dan kepribadian</p>
<p>Arjuna memiliki karakter yang mulia, berjiwa kesatria, imannya kuat, tahan terhadap godaan duniawi, gagah berani, dan selalu berhasil merebut kejayaan sehingga diberi julukan “Dananjaya”. Musuh seperti apapun pasti akan ditaklukkannya, sehingga ia juga diberi julukan “Parantapa”, yang berarti penakluk musuh. Di antara semua keturunan Kuru di dalam silsilah Dinasti Kuru, ia dijuluki “Kurunandana”, yang artinya putera kesayangan Kuru. Ia juga memiliki nama lain “Kuruprāwira”, yang berarti “kesatria Dinasti Kuru yang terbaik”, sedangkan arti harfiahnya adalah “Perwira Kuru”.</p>
<p>Di antara para Pandawa, Arjuna merupakan kesatria pertapa yang paling teguh. Pertapaannya sangat kusuk. Ketika ia mengheningkan cipta, menyatukan dan memusatkan pikirannya kepada Tuhan, segala gangguan dan godaan duniawi tak akan bisa menggoyahkan hati dan pikirannya. Maka dari itu, Sri Kresna sangat kagum padanya, karena ia merupakan kawan yang sangat dicintai Kresna sekaligus pemuja Tuhan yang sangat tulus. Sri Kresna pernah berkata padanya, “Pusatkan pikiranmu pada-Ku, berbaktilah kepada-Ku, dan serahkanlah dirimu pada-Ku, maka kau akan datang kepada-Ku. Aku berkata demikian, karena kaulah kawan-Ku yang sangat Kucintai”.[1]</p>
<p>Masa muda dan pendidikan</p>
<p>Arjuna didik bersama dengan saudara-saudaranya yang lain (para Pandawa dan Korawa) oleh Bagawan Drona. Kemahirannya dalam ilmu memanah sudah tampak semenjak kecil. Pada usia muda ia sudah mendapat gelar “Maharathi” atau “kesatria terkemuka”. Ketika Guru Drona meletakkan burung kayu pada pohon, ia menyuruh muridnya satu-persatu untuk membidik burung tersebut, kemudian ia menanyakan kepada muridnya apa saja yang sudah mereka lihat. Banyak muridnya yang menjawab bahwa mereka melihat pohon, cabang, ranting, dan segala sesuatu yang dekat dengan burung tersebut, termasuk burung itu sendiri. Ketika tiba giliran Arjuna untuk membidik, Guru Drona menanyakan apa yang ia lihat. Arjuna menjawab bahwa ia hanya melihat burung saja, tidak melihat benda yang lainnya. Hal itu membuat Guru Drona kagum bahwa Arjuna sudah pintar.</p>
<p>Pada suatu hari, ketika Drona sedang mandi di sungai Gangga, seekor buaya datang mengigitnya. Drona dapat membebaskan dirinya dengan mudah, namun karena ia ingin menguji keberanian murid-muridnya, maka ia berteriak meminta tolong. Di antara murid-muridnya, hanya Arjuna yang datang memberi pertolongan. Dengan panahnya, ia membunuh buaya yang menggigit gurunya. Atas pengabdian Arjuna, Drona memberikan sebuah astra yang bernama “Brahmasirsa”. Drona juga mengajarkan kepada Arjuna tentang cara memanggil dan menarik astra tersebut. Menurut Mahabharata, Brahmasirsa hanya dapat ditujukan kepada dewa, raksasa, setan jahat, dan makhluk sakti yang berbuat jahat, agar dampaknya tidak berbahaya.</p>
<p>Pusaka</p>
<p>Arjuna memiliki senjata sakti yang merupakan anugerah para dewata, hasil pertapaannya. Ia memiliki panah Pasupati yang digunakannya untuk mengalahkan Karna dalam Bharatayuddha. Busurnya bernama Gandiwa, pemberian Dewa Baruna ketika ia hendak membakar hutan Kandawa. Ia juga memiliki sebuah terompet kerang (sangkala) bernama Dewadatta, yang berarti “anugerah Dewa”.</p>
<p>Arjuna mendapatkan Dropadi</p>
<p>Pada suatu ketika, Raja Drupada dari Kerajaan Panchala mengadakan sayembara untuk mendapatkan Dropadi, puterinya. Sebuah ikan kayu diletakkan di atas kubah balairung, dan di bawahnya terdapat kolam yang memantulkan bayangan ikan yang berada di atas. Kesatria yang berhaisl memanah ikan tersebut dengan hanya melihat pantulannya di kolam, berhak mendapatkan Dropadi.</p>
<p>Berbagai kesatria mencoba melakukannya, namun tidak berhasil. Ketika Karna yang hadir pada saat itu ikut mencoba, ia berhasil memanah ikan tersebut dengan baik. Namun ia ditolak oleh Dropadi dengan alasan Karna lahir di kasta rendah. Arjuna bersama saudaranya yang lain menyamar sebagai Brahmana, turut serta menghadiri sayembara tersebut. Arjuna berhasil memanah ikan tepat sasaran dengan hanya melihat pantulan bayangannya di kolam, dan ia berhak mendapatkan Dropadi.</p>
<p>Ketika para Pandawa pulang membawa Dropadi, mereka berkata, “Ibu, engkau pasti tidak akan percaya dengan apa yang kami bawa!”. Kunti (Ibu para Pandawa) yang sedang sibuk, menjawab “Bagi dengan rata apa yang sudah kalian peroleh”. Sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Kunti, maka para Pandawa bersepakat untuk membagi Dropadi sebagai istri mereka. Mereka juga berjanji tidak akan mengganggu Dropadi ketika sedang bermesraan di kamar bersama dengan salah satu dari Pandawa. Hukuman dari perbuatan yang menggangu adalah pembuangan selama 1 tahun.</p>
<p>Perjalanan menjelajahi Bharatawarsha</p>
<p>Pada suatu hari, ketika Pandawa sedang memerintah kerajaannya di Indraprastha, seorang pendeta masuk ke istana dan melapor bahwa pertapaannya diganggu oleh para raksasa. Arjuna yang merasa memiliki kewajiban untuk menolongnya, bergegas mengambil senjatanya. Namun senjata tersebut disimpan di sebuah kamar dimana Yudistira dan Dropadi sedang menikmati malam mereka. Demi kewajibannya, Arjuna rela masuk kamar mengambil senjata, tidak mempedulikan Yudistira dan Dropadi yang sedang bermesraan di kamar. Atas perbuatan tersebut, Arjuna dihukum untuk menjalani pembuangan selama 1 tahun.</p>
<p>Arjuna menghabiskan masa pengasingannya dengan menjelajahi penjuru Bharatawarsha atau daratan India Kuno. Ketika sampai di sungai Gangga, Arjuna bertemu dengan Ulupi, puteri Naga Korawya dari istana naga atau Nagaloka. Arjuna terpikat dengan kecantikan Ulupi lalu menikah dengannya. Dari hasil perkawinannya, ia dikaruniai seorang putera yang diberi nama Irawan. Setelah itu, ia melanjutkan perjalanannya menuju wilayah pegunungan Himalaya. Setelah mengunjungi sungai-sungai suci yang ada di sana, ia berbelok ke selatan. Ia sampai di sebuah negeri yang bernama Manipura. Raja negeri tersebut bernama Citrasena. Beliau memiliki seorang puteri yang sangat cantik bernama Citrānggadā. Arjuna jatuh cinta kepada puteri tersebut dan hendak menikahinya, namun Citrasena mengajukan suatu syarat bahwa apabila puterinya tersebut melahirkan seorang putera, maka anak puterinya tersebut harus menjadi penerus tahta Manipura oleh karena Citrasena tidak memiliki seorang putera. Arjuna menyetujui syarat tersebut. Dari hasil perkawinannya, Arjuna dan Citrānggadā memiliki seorang putera yang diberi nama Babruwahana. Oleh karena Arjuna terikat dengan janjinya terdahulu, maka ia meninggalkan Citrānggadā setelah beberapa bulan tinggal di Manipura. Ia tidak mengajak istrinya pergi ke Hastinapura.</p>
<p>Setelah meninggalkan Manipura, ia meneruskan perjalanannya menuju arah selatan. Dia sampai di lautan yang mengapit Bharatawarsha di sebelah selatan, setelah itu ia berbelok ke utara. Ia berjalan di sepanjang pantai Bharatawarsha bagian barat. Dalam pengembaraannya, Arjuna sampai di pantai Prabasa (Prabasatirta) yang terletak di dekat Dwaraka, yang kini dikenal sebagai Gujarat. Di sana ia menyamar sebagai seorang pertapa untuk mendekati adik Kresna yang bernama Subadra, tanpa diketahui oleh siapa pun. Atas perhatian dari Baladewa, Arjuna mendapat tempat peristirahatan yang layak di taman Subadra. Meskipun rencana untuk membiarkan dua pemuda tersebut tinggal bersama ditentang oleh Kresna, namun Baladewa meyakinkan bahwa peristiwa buruk tidak akan terjadi. Arjuna tinggal selama beberapa bulan di Dwaraka, dan Subadra telah melayani semua kebutuhannya selama itu. Ketika saat yang tepat tiba, Arjuna menyatakan perasaan cintanya kepada Subadra. Pernyataan itu disambut oleh Subadra. Dengan kereta yang sudah disiapkan oleh Kresna, mereka pergi ke Indraprastha untuk melangsungkan pernikahan.</p>
<p>Baladewa marah setelah mendengar kabar bahwa Subadra telah kabur bersama Arjuna. Kresna meyakinkan bahwa Subadra pergi atas kemauannya sendiri, dan Subadra sendiri yang mengemudikan kereta menuju Indraprastha, bukan Arjuna. Kresna juga mengingatkan Baladewa bahwa dulu ia menolak untuk membiarkan kedua pasangan tersebut tinggal bersama, namun usulnya ditentang oleh Baladewa. Setelah Baladewa sadar, ia membuat keputusan untuk menyelenggarakan upacara pernikahan yang mewah bagi Arjuna dan Subadra di Indraprastha. Ia juga mengajak kaum Yadawa untuk turut hadir di pesta pernikahan Arjuna-Subadra. Setelah pesta pernikahan berlangsung, kaum Yadawa tinggal di Indraprastha selama beberapa hari, lalu pulang kembali ke Dwaraka, namun Kresna tidak turut serta.</p>
<p>Terbakarnya hutan Kandawa</p>
<p>Pada suatu ketika, Arjuna dan Kresna berkemah di tepi sungai Yamuna. Di tepi hutan tersebut terdapat hutan lebat yang bernama Kandawa. Di sana mereka bertemu dengan Agni, Dewa Api. Agni berkata bahwa hutan Kandawa seharusnya telah musnah dilalap api, namun Dewa Indra selalu menurunkan hujannya untuk melindungi temannya yang bernama Taksaka, yang hidup di hutan tersebut. Maka, Agni memohon agar Kresna dan Arjuna bersedia membantunya menghancurkan hutan Kandawa. Kresna dan Arjuna bersedia membantu Agni, namun terlebih dahulu mereka meminta Agni agar menyediakan senjata kuat bagi mereka berdua untuk menghalau gangguan yang akan muncul. Kemudian Agni memanggil Baruna, Dewa Lautan. Baruna memberikan busur suci bernama Gandiwa serta tabung berisi anak panah dengan jumlah tak terbatas kepada Arjuna. Untuk Kresna, Baruna memberikan Cakra Sudarsana. Dengan senjata tersebut, mereka berdua menjaga agar Agni mampu melalap hutan Kandawa sampai habis.</p>
<p>Arjuna dalam masa pembuangan</p>
<p>Setelah Yudistira kalah bermain dadu, para Pandawa beserta Dropadi mengasingkan diri ke hutan. Kesempatan tersebut dimanfa’atkan oleh Arjuna untuk bertapa demi memperoleh kesaktian dalam peperangan melawan para sepupunya yang jahat. Arjuna memilih lokasi bertapa di gunung Indrakila. Dalam usahanya, ia diuji oleh tujuh bidadari yang dipimpin oleh Supraba, namun keteguhan hati Arjuna mampu melawan berbagai godaan yang diberikan oleh para bidadari. Para bidadari yang kesal kembali ke kahyangan, dan melaporkan kegagalan mereka kepada Dewa Indra. Setelah mendengarkan laporan para bidadari, Indra turun di tempat Arjuna bertapa sambil menyamar sebagai seorang pendeta. Dia bertanya kepada Arjuna, mengenai tujuannya melakukan tapa di gunung Indrakila. Arjuna menjawab bahwa ia bertapa demi memperoleh kekuatan untuk mengurangi penderitaan rakyat, serta untuk menaklukkan musuh-musuhnya, terutama para Korawa yang selalu bersikap jahat terhadap para Pandawa. Setelah mendengar penjelasan dari Arjuna, Indra menampakkan wujudnya yang sebenarnya. Dia memberikan anugerah kepada Arjuna berupa senjata sakti.<br />
Setelah mendapat anugerah dari Indra, Arjuna memperkuat tapanya ke hadapan Siwa. Siwa yang terkesan dengan tapa Arjuna kemudian mengirimkan seekor babi hutan berukuran besar. Ia menyeruduk gunung Indrakila hingga bergetar. Hal tersebut membuat Arjuna terbangun dari tapanya. Karena ia melihat seekor babi hutan sedang mengganggu tapanya, maka ia segera melepaskan anak panahnya untuk membunuh babi tersebut. Di saat yang bersamaan, Siwa datang dan menyamar sebagai pemburu, turut melepaskan anak panah ke arah babi hutan yang dipanah oleh Arjuna. Karena kesaktian Sang Dewa, kedua anak panah yang menancap di tubuh babi hutan itu menjadi satu.</p>
<p>Pertengkaran hebat terjadi antara Arjuna dan Siwa yang menyamar menjadi pemburu. Mereka sama-sama mengaku telah membunuh babi hutan siluman, namun hanya satu anak panah saja yang menancap, bukan dua. Maka dari itu, Arjuna berpikir bahwa si pemburu telah mengklaim sesuatu yang sebenarnya menjadi hak Arjuna. Setelah adu mulut, mereka berdua berkelahi. Saat Arjuna menujukan serangannya kepada si pemburu, tiba-tiba orang itu menghilang dan berubah menjadi Siwa. Arjuna meminta ma’af kepada Sang Dewa karena ia telah berani melakukan tantangan. Siwa tidak marah kepada Arjuna, justru sebaliknya ia merasa kagum. Atas keberaniannya, Siwa memberi anugerah berupa panah sakti bernama “Pasupati“.<br />
Setelah menerima anugerah tersebut, Arjuna dijemput oleh para penghuni kahyangan untuk menuju kediaman Indra, raja para dewa. Di sana Arjuna menghabiskan waktu selama beberapa tahun. Di sana pula Arjuna bertemu dengan bidadari Urwasi.</p>
<p>Meletusnya perang</p>
<p>Setelah menjalani masa pembuangan selama 13 tahun para Pandawa ingin memperoleh kembali kerajaannya. Namun ketika sampai di sana, hak mereka ditolak dengan tegas oleh Duryodana, bahkan ia menantang untuk berperang. Demi kerajaannya, para Pandawa menyetujui untuk melakukan perang.</p>
<p>Arjuna menerima Bhagawadgita</p>
<p>Kresna, adik Baladewa, tidak ingin terlibat langsung dalam peperangan antara Pandawa dan Korawa, melainkan ia memilih untuk menjadi kusir kereta Arjuna selama delapan belas hari pertarungan di Medan Kuru atau Kurukshetra. Dalam Mahabharata, peran Kresna sebagai kusir bermakna “pemandu” atau “penunjuk jalan”, yaitu memandu Arjuna melewati segala kebimbangan hatinya dan menunjukkan jalan kebenaran kepada Arjuna. Ajaran kebenaran yang diuraikan Kresna kepada Arjuna disebut Bhagawadgita.</p>
<p>Hal itu bermula beberapa saat sebelum perang di Kurukshetra. Arjuna melakukan inspeksi terhadap pasukannya, agar ia bisa mengetahui siapa yang harus ia bunuh dalam pertempuran nanti. Tiba-tiba Arjuna dilanda pergolakan batin ketika ia melihat kakeknya, guru besarnya, saudara sepupu, teman sepermainan, ipar, dan kerabatnya yang lain berkumpul di Kurukshetra untuk melakukan pembantaian besar-besaran. Arjuna menjadi tak tega untuk membunuh mereka semua. Dilanda oleh masalah batin, antara mana yang benar dan mana yang salah, Arjuna bertekad untuk mengundurkan diri dari pertempuran. Arjuna berkata: Kresna yang baik hati, setelah melihat kawan-kawan dan sanak keluarga di hadapan saya, dengan semangat untuk bertempur seperti itu, saya merasa anggota-anggota badan saya gemetar dan mulut saya terasa kering…..Kita akan dikuasai dosa jika membunuh penyerang seperti itu. Karena itu, tidak pantas kalau kita membunuh para putera Drestarastra dan kawan-kawan kita. O Kresna, suami Dewi Laksmi, apa keuntungannya bagi kita, dan bagaimana mungkin kita berbahagia dengan membunuh sanak keluarga kita sendiri?</p>
<p>Melihat hal itu, Kresna yang mengetahui dengan baik segala ajaran agama Hindu, menguraikan ajaran-ajaran kebenaran agar semua keraguan di hati Arjuna sirna. Kresna menjelaskan, mana yang benar dan mana yang salah, mana yang sepantasnya dilakukan Arjuna sebagai kewajibannya di medan perang. Selain itu Kresna menunjukkan bentuk semestanya kepada Arjuna. Ajaran kebenaran yang dijabarkan Kresna tersebut dikenal sebagai Bhagawadgita, yang berarti “Nyanyian Tuhan”. Kitab Bhagawad Gita yang sebenarnya merupakan suatu bagian dari Bhismaparwa, menjadi kitab tersendiri yang sangat terkenal dalam ajaran Hindu, karena dianggap merupakan intisari dari ajaran-ajaran Weda.</p>
<p>Arjuna dalam Bharatayuddha</p>
<p>Dalam pertempuran di Kurukshetra, atau Bharatayuddha, Arjuna bertarung dengan para kesatria hebat dari pihak Korawa, dan tidak jarang ia membunuh mereka, termasuk panglima besar pihak Korawa yaitu Bisma. Di awal pertempuran, Arjuna masih dibayangi oleh kasih sayang Bisma sehingga ia masih segan untuk membunuhnya. Hal itu membuat Kresna marah berkali-kali, dan Arjuna berjanji bahwa kelak ia akan mengakhiri nyawa Bisma. Pada pertempuran di hari kesepuluh, Arjuna berhasil membunuh Bisma, dan usaha tersebut dilakukan atas bantuan dari Srikandi. Setelah Abimanyu putera Arjuna gugur pada hari ketiga belas, Arjuna bertarung dengan Jayadrata untuk membalas dendam atas kematian puteranya. Pertarungan antara Arjuna dan Jayadrata diakhiri menjelang senja hari, dengan bantuan dari Kresna.</p>
<p>Pada pertempuran di hari ketujuh belas, Arjuna terlibat dalam duel sengit melawan Karna. Ketika panah Karna melesat menuju kepala Arjuna, Kresna menekan kereta Arjuna ke dalam tanah dengan kekuatan saktinya sehingga panah Karna meleset beberapa inci dari kepala Arjuna. Saat Arjuna menyerang Karna kembali, kereta Karna terperosok ke dalam lubang (karena sebuah kutukan). Karna turun untuk mengangkat kembali keretanya yang terperosok. Salya, kusir keretanya, menolak untuk membantunya. Karena mematuhi etika peperangan, Arjuna menghentikan penyerangannya bila kereta Karna belum berhasil diangkat. Pada saat itulah Kresna mengingatkan Arjuna atas kematian Abimanyu, yang terbunuh dalam keadaan tanpa senjata dan tanpa kereta. Dilanda oleh pergolakan batin, Arjuna melepaskan panahnya yang mematikan ke kepala Karna. Senjata itu memenggal kepala Karna.</p>
<p>Kehidupan setelah Bharatayuddha</p>
<p>Tak lama setelah Bharatayuddha berakhir, Yudistira diangkat menjadi Raja Kuru dengan pusat pemerintahan di Hastinapura. Untuk menengakkan dharma di seluruh Bharatawarsha, sekaligus menaklukkan para raja kejam dengan pemerintahan tiran, maka Yudistira menyelenggarakan Aswamedha Yadnya. Upacara tersebut dilakukan dengan melepaskan seekor kuda dan kuda itu diikuti oleh Arjuna beserta para prajurit. Daerah yang dilalui oleh kuda tersebut menjadi wilayah Kerajaan Kuru. Ketika Arjuna sampai di Manipura, ia bertemu dengan Babruwahana, putera Arjuna yang tidak pernah melihat wajah ayahnya semenjak kecil. Babruwahana bertarung dengan Arjuna, dan berhasil membunuhnya. Ketika Babruwahana mengetahui hal yang sebenarnya, ia sangat menyesal. Atas bantuan Ulupi dari negeri Naga, Arjuna hidup kembali.</p>
<p>Tiga puluh enam tahun setelah Bharatayuddha berakhir, Dinasti Yadu musnah di Prabhasatirtha karena perang saudara. Kresna dan Baladewa, yang konon merupakan kesatria paling sakti dalam dinasti tersebut, ikut tewas namun tidak dalam waktu yang bersamaan. Setelah berita kehancuran itu disampaikan oleh Daruka, Arjuna datang ke kerajaan Dwaraka untuk menjemput para wanita dan anak-anak. Sesampainya di Dwaraka, Arjuna melihat bahwa kota gemerlap tersebut telah sepi. Basudewa yang masih hidup, tampak terkulai lemas dan kemudian wafat di mata Arjuna. Sesuai dengan amanat yang ditinggalkan Kresna, Arjuna mengajak para wanita dan anak-anak untuk mengungsi ke Kurukshetra. Dalam perjalanan, mereka diserang oleh segerombolan perampok. Arjuna berusaha untuk menghalau serbuan tersebut, namun kekuatannya menghilang pada saat ia sangat membutuhkannya. Dengan sedikit pengungsi dan sisa harta yang masih bisa diselamatkan, Arjuna menyebar mereka di wilayah Kurukshetra.<br />
Setelah Arjuna berhasil menjalankan misinya untuk menyelamatkan sisa penghuni Dwaraka, ia pergi menemui Resi Byasa demi memperoleh petunjuk. Arjuna mengadu kepada Byasa bahwa kekuatannya menghilang pada saat ia sangat membutuhkannya. Byasa yang bijaksana sadar bahwa itu semua adalah takdir Yang Maha Kuasa. Byasa menyarankan bahwa sudah selayaknya para Pandawa meninggalkan kehidupan duniawi. Setelah mendapat nasihat dari Byasa, para Pandawa spakat untuk melakukan perjalanan suci menjelajahi Bharatawarsha.</p>
<p>Perjalanan suci dan kematian</p>
<p>Perjalanan suci yang dilakukan oleh para Pandawa diceritakan dalam kitab Prasthanikaparwa atau Mahaprasthanikaparwa. Dalam perjalanan sucinya, para Pandawa dihadang oleh api yang sangat besar, yaitu Agni. Ia meminta Arjuna agar senjata Gandiwa beserta tabung anak panahnya yang tak pernah habis dikembalikan kepada Baruna, sebab tugas Nara sebagai Arjuna sudah berakhir di zaman Dwaparayuga tersebut. Dengan berat hati, Arjuna melemparkan senjata saktinya ke lautan, ke kediaman Baruna. Setelah itu, Agni lenyap dari hadapannya dan para Pandawa melanjutkan perjalanannya.</p>
<p>Ketika para Pandawa serta istrinya memilih untuk mendaki gunung Himalaya sebagai tujuan akhir perjalanan mereka, Arjuna gugur di tengah perjalanan setelah kematian Nakula, Sahadewa, dan Dropadi.</p>
<p>Arjuna di Nusantara</p>
<p>Di Nusantara, tokoh Arjuna juga dikenal dan sudah terkenal dari dahulu kala. Arjuna terutama menjadi populer di daerah Jawa, Bali, Madura, dan Lombok. Di Jawa dan kemudian di Bali, Arjuna menjadi tokoh utama dalam beberapa kakawin, seperti misalnya Kakawin Arjunawiwāha, Kakawin Pārthayajña, dan Kakawin Pārthāyana (juga dikenal dengan nama Kakawin Subhadrawiwāha. Selain itu Arjuna juga didapatkan dalam beberapa relief candi di pulau Jawa misalkan candi Surowono.</p>
<p>Arjuna dalam dunia pewayangan Jawa</p>
<p>Arjuna juga merupakan seorang tokoh ternama dalam dunia pewayangan dalam budaya Jawa Baru. Di bawah ini disajikan beberapa ciri khas yang mungkin berbeda dengan ciri khas Arjuna dalam kitab Mahābhārata versi India dengan bahasa Sansekerta.</p>
<p>Sifat dan kepribadian</p>
<p>Arjuna seorang kesatria yang gemar berkelana, bertapa dan berguru menuntut ilmu. Selain menjadi murid Resi Drona di Padepokan Sukalima, ia juga menjadi murid Resi Padmanaba dari Pertapaan Untarayana. Arjuna pernah menjadi brahmana di Goa Mintaraga, bergelar Bagawan Ciptaning. Ia dijadikan kesatria unggulan para dewa untuk membinasakan Prabu Niwatakawaca, raja raksasa dari negara Manimantaka. Atas jasanya itu, Arjuna dinobatkan sebagai raja di Kahyangan Dewa Indra, bergelar Prabu Karitin. dan mendapat anugrah pusaka-pusaka sakti dari para dewa, antara lain: Gendewa (dari Bhatara Indra), Panah Ardadadali (dari Bhatara Kuwera), Panah Cundamanik (dari Bhatara Narada).</p>
<p>Arjuna memiliki sifat cerdik dan pandai, pendiam, teliti, sopan-santun, berani dan suka melindungi yang lemah. Ia memimpin Kadipaten Madukara, dalam wilayah negara Amarta. Setelah perang Bharatayuddha, Arjuna menjadi raja di Negara Banakeling, bekas kerajaan Jayadrata. Akhir riwayat Arjuna diceritakan, ia moksa (mati sempurna) bersama keempat saudaranya yang lain di gunung Himalaya.</p>
<p>Ia adalah petarung tanpa tanding di medan laga, meski bertubuh ramping berparas rupawan sebagaimana seorang dara, berhati lembut meski berkemauan baja, kesatria dengan segudang istri dan kekasih meski mampu melakukan tapa yang paling berat, seorang kesatria dengan kesetiaan terhadap keluarga yang mendalam tapi kemudian mampu memaksa dirinya sendiri untuk membunuh saudara tirinya. Bagi generasi tua Jawa, dia adalah perwujudan lelaki seutuhnya. Sangat berbeda dengan Yudistira, dia sangat menikmati hidup di dunia. Petualangan cintanya senantiasa memukau orang Jawa, tetapi secara aneh dia sepenuhnya berbeda dengan Don Juan yang selalu mengejar wanita. Konon Arjuna begitu halus dan tampan sosoknya sehingga para puteri begitu, juga para dayang, akan segera menawarkan diri mereka. Merekalah yang mendapat kehormatan, bukan Arjuna. Ia sangat berbeda dengan Wrekudara. Dia menampilkan keanggunan tubuh dan kelembutan hati yang begitu dihargai oleh orang Jawa berbagai generasi.</p>
<p>Pusaka</p>
<p>Arjuna juga memiliki pusaka-pusaka sakti lainnya, atara lain: Keris Kiai Kalanadah diberikan pada Gatotkaca saat mempersunting Dewi Pergiwa (putera Arjuna), Panah Sangkali (dari Resi Drona), Panah Candranila, Panah Sirsha, Panah Kiai Sarotama, Panah Pasupati, Panah Naracabala, Panah Ardhadhedhali, Keris Kiai Baruna, Keris Pulanggeni (diberikan pada Abimanyu), Terompet Dewanata, Cupu berisi minyak Jayengkaton (pemberian Bagawan Wila</p>
<p>wuk dari pertapaan Pringcendani) dan Kuda Ciptawilaha dengan Cambuk Kiai Pamuk. Sedangkan ajian yang dimiliki Arjuna antara lain: Panglimunan, Tunggengmaya, Sepiangin, Mayabumi, Pengasih dan Asmaragama. Arjuna juga memiliki pakaian yang melambangkan kebesaran, yaitu Kampuh atau Kain Limarsawo, Ikat Pinggang Limarkatanggi, Gelung Minangkara, Kalung Candrakanta dan Cincin Mustika Ampal (dahulunya milik Prabu Ekalaya, raja negara Paranggelung).</p>
<p>Istri dan keturunan</p>
<p>Dalam Mahabharata versi pewayangan Jawa, Arjuna mempunyai 15 orang istri dan 14 orang anak. Adapun istri dan anak-anaknya adalah:</p>
<p>· Dewi Subadra, berputera Raden Abimanyu</p>
<p>· Dewi Larasati, berputera Raden Sumitra dan Bratalaras</p>
<p>· Dewi Ulupi atau Palupi, berputera Bambang Irawan</p>
<p>· Dewi Jimambang, berputera Kumaladewa dan Kumalasakti</p>
<p>· Dewi Ratri, berputera Bambang Wijanarka</p>
<p>· Dewi Dresanala, berputera Raden Wisanggeni</p>
<p>· Dewi Wilutama, berputera Bambang Wilugangga</p>
<p>· Dewi Manuhara, berputera Endang Pregiwa dan Endang Pregiwati</p>
<p>· Dewi Supraba, berputera Raden Prabakusuma</p>
<p>· Dewi Antakawulan, berputera Bambang Antakadewa</p>
<p>· Dewi Juwitaningrat, berputera Bambang Sumbada</p>
<p>· Dewi Maheswara</p>
<p>· Dewi Retno Kasimpar</p>
<p>· Dewi Dyah Sarimaya</p>
<p>· Dewi Srikandi</p>
<p>Julukan</p>
<p>Dalam wiracarita Mahabharata versi nusantara, Arjuna banyak memiliki nama dan nama julukan, antara lain: Parta (pahlawan perang), Janaka (memiliki banyak istri), Pemadi (tampan), Dananjaya, Kumbaljali, Ciptaning Mintaraga (pendeta suci), Pandusiwi, Indratanaya (putra Batara Indra), Jahnawi (gesit trengginas), Palguna, Indrasuta, Danasmara (perayu ulung) dan Margana (suka menolong). “Begawan Mintaraga” adalah nama yang digunakan oleh Arjuna saat menjalani laku tapa di puncak Indrakila dalam rangka memperoleh senjata sakti dari dewata, yang akan digunakan dalam perang yang tak terhindarkan melawan musuh-musuhnya, yaitu keluarga Korawa.</p>
<p>Nama lain</p>
<p>Nama lain Arjuna di bawah ini merupakan nama lain Arjuna yang sering muncul dalam kitab-kitab Mahabharata atau Bhagawad Gita yang merupakan bagian daripadanya, dalam versi bahasa Sanskerta. Nama-nama lain di bawah ini memiliki makna yang sangat dalam, mengandung pujian, dan untuk menyatakan rasa kekeluargaan (nama-nama yang dicetak tebal dan miring merupakan sepuluh nama Arjuna).</p>
<p>· Anagha (Anaga, yang tak berdosa)</p>
<p>· Bhārata (Barata, keturunan Bhārata)</p>
<p>· Bhārataśreṣṭha (Barata-sresta, keturunan Bhārata yang terbaik)</p>
<p>· Bhāratasattama (Bharata-satama, keturunan Bhārata yang utama)</p>
<p>· Bhārataśabhā (Barata-saba, keturunan Bharata yang mulia)</p>
<p>· Dhanañjaya (perebut kekayaan)*</p>
<p>· Gandīvi (Gandiwi, pemilik Gandiwa, senjata panahnya)</p>
<p>· Gudakeśa (penakluk rasa kantuk, yang berambut halus)</p>
<p>· Jishnu (hebat ketika marah)*</p>
<p>· Kapidhwaja (yang memakai panji berlambang monyet)</p>
<p>· Kaunteya / Kuntīputra (putera Dewi Kunti)</p>
<p>· Kīrti (yang bermahkota indah)*</p>
<p>· Kurunandana (putera kesayangan dinasti Kuru)</p>
<p>· Kurupravīra (Kuru-prawira, perwira Kuru, ksatria dinasti Kuru yang terbaik)</p>
<p>· Kurusattama (Kuru-satama, keturunan dinasti Kuru yang utama)</p>
<p>· Kuruśreṣṭha (Kuru-sresta, keturunan dinasti Kuru yang terbaik)</p>
<p>· Mahābāhu (Maha-bahu, yang berlengan perkasa)</p>
<p>· Pāṇḍava (Pandawa, putera Pandu)</p>
<p>· Parantapa (penakluk musuh)*</p>
<p>· Pārtha (keturunan Partha atau Dewi Kunti)*</p>
<p>· Phālguna (yang lahir saat bintang Uttara Phalguna muncul)*</p>
<p>· Puruṣarṣabhā (Purusa-rsaba, manusia terbaik)</p>
<p>· Sawyashachī (Sawya-saci, yang mampu memanah dengan tangan kanan maupun kiri)*</p>
<p>· Shwetwāhana (Swe-twahana, yang memiliki kuda berwarna putih)*</p>
<p>· Wibhatsu (yang bertarung dengan jujur)*</p>
<p>· Wijaya (yang selalu memenangkan setiap pertempuran)*</p>
<p><a href="http://id.wikipedia.org"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">id.wikipedia.org</span></span></a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/anggatoji.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/anggatoji.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/anggatoji.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/anggatoji.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/anggatoji.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/anggatoji.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/anggatoji.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/anggatoji.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/anggatoji.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/anggatoji.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/anggatoji.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/anggatoji.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/anggatoji.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/anggatoji.wordpress.com/32/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anggatoji.wordpress.com&amp;blog=5594483&amp;post=32&amp;subd=anggatoji&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anggatoji.wordpress.com/2008/11/07/mungkinkah-kita-seperti-arjuna/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/79b01384275ab89cc6dbe67d8adc7f96?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">anggatoji</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://anggatoji.files.wordpress.com/2008/11/arjuna.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">arjuna</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
